Blues Spirit Sesi 88: BBM Naik, Selanjutnya Apa?
Dulur-dulur di Malang Raya dan di mana saja, apa komentar sampean semua atas kenaikan BBM yang baru berjalan beberapa hari ini?!
- Wajar?
- Sudah seharusnya begitu?
- Bersyukur karena hanya untuk yang kelas atas saja?
- Atau khawatir, akan ada yang dahsyat, yang akan menyentuh kebutuhan konsumsi untuk kelas menengah dan bawah?
Kita sudah biasa menerima kebijakan tidak apa adanya. Tidak tuntas, tidak mendasar.
Kenaikan BBM kali ini, kita tidak kaget. Karena semua sudah mengerti, 1 juta ton minyak kita per hari didapat dari impor. Cadangan kita hanya untuk 23 hari. Sumber minyaknya dari dan lewat Timur Tengah yang sedang perang. Perang yang bakal panjang.
Minyak global sudah terganggu, langka dan naik. Kebijakan kenaikan ini, masih butuh keterangan akan ada apa lagi? Dan apa yang bakal bikin mbendol mburi.
Konsumsi minyak utama kita memang belum naik yaitu Pertalite, yang menyedot 70 persen dari total ketersediaan dan Pertamax yang butuh 25 persen. Yang naik tajam ini, hanya 2 persen dari total konsumsi. Hanya untuk kalangan atas saja, Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex.
Empat jenis lainnya, yang dikonsumsi kelas menengah dan bawah, Pertalite, Biosolar, Pertamax dan
Pertamax Green belum naik. Tapi kebijakan ini seperti setengah hati.
Lihat dalam tiga hari setelah kenaikan itu, pengguna Pertamax Turbo yang harganya menjadi Rp19.400 itu pindah ke Pertamax yang masih Rp12.300.
Kita tidak melihat kebijakan mendasar. Misalnya dalam waktu cepat membuat moda transportasi umum yang sangat nyaman, gampang dan murah? Jalurnya dibuat enak.
Kalau perlu mereka dijemput oleh kendaraan lanjutan di tempat pengepulan. Seperti moda Wira Wiri oleh Pemkot Surabaya? Atau kebijakan-kebijakan lain yang menyelesaikan. Bukan menggantung yang akhirnya tetap saja membebani rakyat.
Rakyat juga masih diintip oleh ancaman tambahan. Kemarau panjang yang akan lebih kering dari 30 tahun kemarau sebelumnya. Ditambah akan ada badai El Nino, terjadi antara Agustus-Oktober 2026.
Panasnya sudah mulai terasa sekarang. Bagaimana ketersediaan pangan kita?
Kita butuh seruan yang jujur, apa adanya, mendasar tapi tetap optimistis dan bisa dijalani dengan adil.
Bukan tipu-tipu.
Bukan kata-kata manis.
Karena kata-kata yang diselewengkan akan menghancurkan makna. Efeknya lebih menghancurkan dari bom di Timur Tengah.




