
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Regenerasi menjadi pilar utama dalam melanjutkan keberlangsungan prestasi atlet pada sebuah cabang olahraga, tak terkecuali basket. Dalam hal ini, Ketua Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi) Malang Hessy Hazniah Tamim memiliki strategi untuk memastikan regenerasi atlet berprestasi ke generasi selanjutnya berjalan mulus.
Salah satunya adalah dengan memantau turnamen-turnamen, baik antarclub maupun kejuaraan-kejuaraan regional dan nasional.
“Sebenarnya yang menjadi kita kuat itu adalah di Kota Malang, kita punya club-club aktif. Jadi mereka setiap ada turnamen, mau di Malang, Surabaya, Bali, Jogja, Cirebon, Jakarta, mereka ikut. Di Malang ini alhamdulillahnya hampir semua universitas, bikin turnamen. Kayak UM, Polinema, STIKI, Universitas Brawijaya, UNMER, itu bikin turnamen yang diikuti pelajar SMA,” kata Hessy.
Baca juga:
Kota Surabaya Masih Jadi Lawan Terberat Tim Basket Kota Malang
Tidak hanya itu, di tingkat SMA misalnya, SMAN 8, SMAN 2, SMA Dempo, SMA Kosayu itu juga tak jarang menggelar turnamen tingkat SMP. Begitu pula sekolah jenjang SMP mengggelar turnamen untuk tingkat SD.
“Jadi bicara turnamen di Kota Malang, saya orang yang paling bangga ya. Karena semakin tahun, semakin banyak turnamen. Club juga ada yang bikin turnamen antarclub, misal Bimasakti Club. Kami sendiri dari Perbasi ada Kejurkot. Akhir tahun kita bikin Kejurkot diikuti oleh semua club di Kota Malang,” lanjutnya.
Sedangkan dari sisi peserta turnamen atau atlet, Hessy juga memberikan aturan tegas. Salah satunya adalah penyelenggara turnamen di Kota Malang, 70 persen pesertanya harus asli Kota Malang.
“Kenapa begitu? karena pas Porprov, kita pakai anak Kota Malang asli. Jadi 70 persen Kota Malang, 30 persen dari Malang Raya (Batu sama Kabupaten Malang). Selama saya di Perbasi, kita tidak pernah mengambil anak dari luar, jadi asli didikan Kota Malang,” kata Hessy.
Selanjutnya, untuk memperkuat ekosistem basket di Kota Malang, Hessy akan melakukan sejumlah pembenahan. Terutama pada system pendataan atlet.
“Dari data atlet, banyak yang bosan di club ini, lalu pindah ke club lain,” katanya.
Umumnya, atlet-atlet tersebut pindah karena alasan personal, misalnya jarang ditunjuk saat pertandingan. Dari sisi pendataan, ini akan menyulitkan Perbasi mendata atlet potensial. Sedangkan dari sisi personal, sikap seperti ini akan membentuk seseorang menjadi tidak punya pendirian.
Bagi Hessy, regenerasi bukan sekadar mencari bibit baru, melainkan membentuk karakter, loyalitas, dan mental bertanding sejak dini. Melalui sistem yang lebih tertata dan kompetisi yang hidup, ia berharap Kota Malang mampu melahirkan pemain yang tangguh. (adv)
Editor: Intan Refa




