Idjen Talk

Waspada! Kenali Modus Penipuan Berbasis AI

Idjen Talk edisi 2 Oktober 2026, "Waspada Modus Penipuan Berbasis AI"
Idjen Talk edisi 2 Oktober 2026, “Waspada! Kenali Modus Penipuan Berbasis AI”

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Farid Faletehan mengungkapkan tren kasus penipuan menggunakan teknologi Akal Imitasi atau AI menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat dari 2.358 pengaduan konsumen di OJK Malang, 21 persen di antaranya adalah laporan penipuan.

“Terus terang ini meningkat hampir 50 persen dari tahun lalu. Jadi penipuan yang ada di Malang ini sudah semakin banyak. Nah, salah satunya memang menggunakan AI,” kata Farid.

Beberapa modusnya adalah voice cloning dan fake call, di mana penipu meniru suara kerabat atau orang yang dikenal korban menggunakan AI. Penipu biasanya mempelajari profil korban terlebih dahulu lewat media sosial. Seperti hobi, pertemanan dan kebiasaan, untuk membangun percakapan yang lebih meyakinkan dengan calon korban.

Simak di sini:

Jika baru menyadari telah terkena modus penipuan, secepatnya segera lapor ke IASC (iasc.go.id) secara online. Selambatnya 1 jam setelah terkena scam sebelum pelaku memindahkan uangnya ke rekening lain. Portal ini telah bekerja sama dengan OJK, kepolisian dan perbankan. Berikan laporan yang rinci dan cepat agar IASC dapat membekukan rekening penipu.

Sejauh ini IASC telah membekukan dana penipuan sekitar Rp771 miliar secara nasional dan telah mengembalikan Rp206 miliar kepada korban. Selanjutnya nama dan nomor rekening yang terindikasi penipuan akan diblacklist dan tidak bisa lagi digunakan di seluruh perbankan.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Dr Eng Ir Herman Tolle MT mengatakan para penipu biasanya menyerang sisi psikologis korbannya. Ia menyebut beberapa modus penipuan yang kerap digunakan saat ini. Ada voice cloning yang menyamarkan suara pelaku mirip dengan suara dari target.

Baca juga:

Kenali 5 Emosi Pemicu Seseorang Rentan Kena Penipuan

Kemudian deepfake yaitu membuat video palsu, dan face swiping yaitu menukar wajah seseorang dengan orang lain. Para pelaku biasanya memanfaatkan kelengahan calon korban yang rajin memposting aktivitas mereka di media sosial yang menampilkan foto, video, suara dan lain-lain.

“Nah, dengan kecanggihan AI sekarang kita justru semakin sulit membedakan mana yang asli atau palsu. Dengan fenomena sekarang mungkin masyarakat harus lebih hati-hati lagi. Kalau ada siapapun yang mengontak kita perlu memverifikasi lebih jauh. Tidak langsung percaya jika ada instruksi untuk melakukan hal-hal yang bisa merugikan kita,” kata Herman.

Ia mengingatkan agar tidak langsung percaya pada telepon yang meminta transfer uang atau data sensitif, lakukan cross check dulu dengan orang terdekat untuk memastikan kebenarannya. Lalu kurangi membagikan aktivitas harian, data keluarga maupun data pribadi secara terbuka di media sosial. (WL)

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x