Stok Langka, Ke Mana Perginya Beras Premium?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Beberapa pekan ini, masyarakat Kota Malang kesulitan mendapatkan beras premium. Pasokan di sejumlah pasar dan toko retail kosong, dan hanya menyisakan beras SPHP. Banyak keluhan yang diterima Radio City Guide FM soal beras premium yang langka di pasaran. Kalaupun ada, harganya bisa sangat mahal, mulai dari Rp82 ribu hingga Rp100 ribu ukuran 5 kilogram.
“Daerah Blimbing sekitar semingguan, beras jugas sulit ditemukan (premium),” kata Srigati.
“Beras premium daerah Dieng juga langka dan harga juga naik, Rp90 ribu/5 kilogram,” sambung Anto.
Simak di sini:
“Izin di daerah Arjowinangun dan sekitarnya untuk beras memang agak susah, apalagi yang premium. Rata-rata SPHP sekarang kualitas jelek. Kuning, kutuan, bau ada hitam-hitamnya, dimakan gak enak,” keluh Joko.
“Saya pedagang beras di Malang. Boleh sekilas info tentang beras. Jadi beras premium menghilang karena kendala HET beras Rp14.900 per kg. Waktu panen Februari sampai April, Bulog beli gabah di atas harga dasar pembelian gabah. Nah pabrik beras premium pasti akan mengikuti harga yang Bulog beli. Modal mereka pabrik beras sekarang kisaran Rp15.500 per kg, tetapi HET Rp14.900 tidak boleh melebihi jualnya akan melanggar aturan pemerintah. Jadi stok di pabrik beras melimpah, cuman mereka tidak mau jual ke kita pedagang karena harus jual sesuai HET Rp14.900, pabrik beras akan rugi,” jelas Gunawan.
Melihat situasi ini, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas PGRI Kanjuruhan Malang Lina Kartikaningrum MAB menjelaskan salah satu faktor yang menyebabkan beras premium langka di pasaran adalah cuaca ekstrem. Fenomena El Nino yang menyebabkan kemarau panjang, turut mempengaruhi produksi padi di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan yang menjadi sentra padi.
“Nah, jadi beras premium ini membutuhkan yang namanya gabah yang kualitasnya bagus, otomatis dia sangat sensitif terhadap curah hujan dan suhu saat ini,” jelasnya.
Baca juga:
Beras Premium Mahal, Bulog Malang Guyur Beras SPHP
Saat isu beras premium langka mulai berembus, masyarakat pun langsung berlomba-lomba membeli beras dalam jumlah banyak atau panic buying sebelum kehabisan. Lalu soal rantai distribusi dari petani, pengepul hingga ke pedagang besar.
“Nah, di dalam pedagang besar ini biasanya mereka itu memberikan mark up (kenaikan harga). Ini baru pengepul atau pedagang besar. Nah, setelah itu baru ke distributor lalu disalurkan ke retail. Karena lonjakan harga itu biasanya mereka di saat harga beras premium ini belum mencapai titik tertinggi, mereka biasanya nyetok dulu yang banyak,” lanjutnya.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang Luh Putu Eka Wilantari menyebut pasokan beras premium bukan kosong atau hilang dari pasaran. Melainkan pasokannya yang terbatas.
Baca juga:
Lahan Padi Meluas, Produksi Beras Kota Batu Menyusut
“Jadi dari pantauan tim kami di lapangan, terutama di pasar ya dan retail modern sebenarnya stok beras bukan langka sih. Ada, hanya memang stoknya terbatas. Kenapa kemudian stoknya terbatas? Karena memang harga beras dari distributor itu sudah mengalami kenaikan. Sehingga pedagang pun khawatir, kalau membeli sudah harga tinggi nanti ke konsumen kan juga harus tinggi. Ada kekhawatiran nanti konsumen tidak ada yang beli,” terang Eka.
Lalu faktor lainnya adalah soal musim, di mana saat ini masih belum memasuki masa panen raya. Sehingga, pasokan beras terbatas. Selain itu, faktor kenaikan biaya penunjang seperti plastik juga ikut mengerek harga beras premium.
“Kapan hari juga ada sidak pasar dipimpin langsung Pak Wali ota. Nah, mungkin saat ini sedang dirumuskan oleh tim TPID langkah-langkah apa yang sekiranya perlu kita ambil untuk menstabilkan kembali harga harga beras,” lanjutnya.





