Realita Pekerja Kini, Downgrade Karir dan Gaya Hidup

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Kehidupan pekerja saat ini seolah jungkir balik. Menghadapi ekonomi yang memburuk, biaya hidup semakin mahal dan kebijakan pemerintah yang kurang berpihak pada masyarakat. Bahkan, tidak sedikit warganet yang membagikan keputusannya untuk melakukan downgrade gaya hidup serta karir.
Dosen Pascasarjana Manajemen Universitas PGRI Kanjuruhan Dr Dianawati Suryaningtyas MM CHRA melihat fenomena downgrading ini sebagai dampak dari gelombang PHK yang menimpa sejumlah industri. Akibatnya, pekerja-pekerja yang terdampak berusaha mencari pekerjaan apa saja untuk menyambung hidup. Termasuk juga memangkas biaya-biaya, agar fokus pada kebutuhan pokok.
Tapi ada juga, kalangan pekerja yang memang sengaja melakukan downgrade karir bukan karena keterpaksaan atau desakan ekonomi, melainkan strategi. Generasi Z biasanya memiliki mindset seperti ini karena memang punya karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Simak di sini:
“Mereka sepertinya kurang suka untuk mempunyai tanggung jawab struktural jabatan yang sangat mengikat. Sehingga mereka lebih memilih untuk memiliki posisi yang rendah dengan gaji yang cukup. Asal waktu mereka tidak banyak terbuang pada pekerjaan, sehingga masih bisa menikmati hidup untuk diri sendiri maupun keluarganya. Dengan kata lain work life balance,” jelas Dian.
Artinya, ada yang downgrade karena tuntutan ekonomi dan ada juga karena prioritas atau pilihan hidup. Namun, mereka yang memilih downgrade karir, biasanya mereka memiliki usaha sendiri sehingga tidak terlalu mengejar jabatan tinggi.
Selaras dengan Dian, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang Dr Djudiyah MSi menambahkan bahwa Gen Z yang saat ini mendominasi pasar tenaga kerja, bukan tidak ingin berkarir cemerlang. Mereka lebih memilih menyisihkan waktu untuk mengembangkan diri dengan menyalurkan minat dan bakatnya.
Baca juga:
Lowongan Ada, Kenapa Pengangguran Masih Tinggi?
“Sehingga mereka merasa bisa tumbuh dengan bekerja dan dengan minat. Jadi ibaratnya, ‘Aku jangan hanya disuruh bekerja saja, tapi saya minta mendapat kesempatan juga untuk mengembangkan hal-hal yang lain dari diri saya’,” jelas Diyah.
Selain itu, dari perspektif psikologi, sebagian orang yang menganggap pekerjaan sebagai harga diri, umumnya akan mengalami stres kerja dan masalah mental lain ketika berhadapan dengan situasi seperti ini. Sebaliknya, ada juga yang memilih menurunkan standar hidup dengan memilih resign dari pekerjaan yang workloadnya semakin tinggi, lalu beralih ke wirausaha.
Mau tidak mau, perusahaan tampaknya harus beradaptasi dengan perubahan ini. Misalnya, mengubah struktur organisasi jadi lebih datar, menyesuaikan karakteristik tenaga kerja muda yang tidak suka birokrasi kaku atau jabatan struktural yang mengikat.





