Pelatih Legendaris Sepak Bola Indonesia, M Basri Tutup Usia

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Dunia sepak bola Indonesia berduka. Pelatih senior sekaligus legenda sepak bola nasional, Muhammad Basri (M Basri), meninggal dunia pada Kamis (23/7/2026) pukul 04.50 WIB di rumah sakit Surabaya. Kepergian sosok yang mengantarkan Arema FC meraih gelar juara Galatama 1992-1993 itu, menjadi satu kehilangan besar bagi sepak bola nasional.
Pria kelahiran Makassar, 5 Oktober 1942, itu merupakan arsitek di balik lahirnya prestasi pertama Singo Edan di kompetisi nasional. Sebuah pencapaian yang menjadi fondasi kejayaan klub hingga saat ini. General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya pelatih yang pernah mengukir sejarah emas Singo Edan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami sekeluarga besar Arema FC sangat kehilangan atas berpulangnya M Basri. Beliau adalah pelatih dengan dedikasi tinggi yang telah menorehkan sejarah emas bagi Arema. Prestasi beliau membawa Arema menjadi juara Galatama 1993 adalah warisan yang tidak akan pernah kami lupakan. Kami mendoakan semoga almarhum husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Yusrinal.
M Basri mendapat kepercayaan pendiri Arema Acub Zainal untuk melatih klub pada tahun 1991. Di bawah kepemimpinannya, Arema tampil impresif dan berhasil menjuarai Galatama musim 1992-1993 dengan mengumpulkan 45 poin dari 32 pertandingan. Itu semua hasil dari 18 kemenangan, 9 kali imbang, dan 5 kekalahan. Gelar tersebut menjadi trofi nasional pertama dalam sejarah klub.
Sebelum sukses bersama Arema, Basri sebenarnya telah lebih dulu menorehkan prestasi sebagai pelatih. Ia membawa Persebaya Surabaya menjuarai Piala Perserikatan 1977. Serta mengantarkan Niac Mitra meraih tiga gelar Galatama pada 1981, 1982, dan 1986.
Kesuksesan itu membawanya mendapat kepercayaan menangani Timnas Indonesia senior pada periode 1983 dan 1989. Basri sendiri memulai kariernya di sepak bola juga berawal dari seorang pemain.
Ia pernah memperkuat Timnas Indonesia pada Asian Games 1962. Lebih jauh ia juga menjadi bagian dari skuad PSM Makassar yang menjuarai Kompetisi Perserikatan pada musim 1964-1965 dan 1965-1966.
Usai meninggalkan Arema, Basri melanjutkan kiprahnya sebagai pelatih di sejumlah klub. Seperti Mitra Surabaya, PSM Makassar, Persita Tangerang, Persela Lamongan, hingga Persiba Bantul. Ia terkenal sebagai pelatih yang disiplin, piawai memotivasi pemain, serta mahir membaca kekuatan dan kelemahan lawan.
Basri juga konsisten mengusung filosofi yang memberi ruang bagi pemain putra daerah. Kepergian M Basri menutup perjalanan panjang salah satu pelatih paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Indonesia. Namun, dedikasi, prestasi, dan warisan yang ia tinggalkan, terutama keberhasilannya mempersembahkan gelar juara pertama bagi Arema FC, akan terus terkenang sebagai bagian penting dalam sejarah sepak bola nasional.
Editor: Intan Refa





