Osob Kiwalan: Identitas Malang yang Mulai Terlupakan?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Merunut pada sejarah, Boso Walikan atau Osob Kiwalan di Malang era 1940-an adalah bahasa yang dipopulerkan oleh Mayor Hamid Rusdi. Ia bersama para pejuang lain menggunakan bahasa ini sebagai sandi komunikasi untuk mengelabuhi musuh. Lalu dalam beberapa dekade kemudian, Osob Kiwalan terus mengalami pergeseran.
Pada era 1950-an, Boso Walikan menjadi bahasa dari kalangan marjinal atau kriminal, kemudian pada tahun 1970-an berkembang menjadi bahasa gaul anak muda saat itu. Selanjutnya, pada tahun 1990 hingga 2000-an, Osob Kiwalan menjadi bahasa solidaritas bersama Aremania. Tahun 2026, Osob Kiwalan telah menjadi Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Dosen Linguistik Universitas Negeri Malang Dr Nurenzia Yannuar SS MA PhD menjelaskan bahwa kreativitas masyarakat melakukan pembalikan kata atau bentuk seperti Osob Walikan Malang, ada juga di berbagai daerah lain. Misalnya Boso Walikan di Yogyakarta, membolak-balikkan kata berdasarkan aksara jawa Hanacaraka.
Simak di sini:
“Lalu di Malaysia juga ada, bahasa Balik namanya. Di Filipina juga ada Golagat yang itu adalah balikan dari Tagalog. Kemudian kalau agak jauh di Eropa juga ada bahasa Verlan yang juga pembalikan dalam bahasa Prancis gitu. Jadi banyak ya sebetulnya proses kreatif bahasa yang berupa pembalikan ini ada di mana-mana,” kata Renzi.
Khusus Osob Kiwalan di Malang, Renzi mengatakan boso walikan ini tidak hanya sekedar membalik huruf maupun tulisan. Tidak semua kata bisa dibalik. Walaupun aturan atau pakem ini memang tidak secara tertulis, tapi umumnya aturan utama pembalikan adalah berdasarkan bunyi atau vonim.
“Membaliknya pun juga kita harus paham aturan pengucapan dalam bahasa Jawa. Jadi misalnya kenapa ‘Ngalam’ bukan Gnalam, padahal tulisannya M-a-l-a-n-g. Kita tidak membaliknya berdasarkan bagaimana kata itu tertulis tapi bunyinya. Dalam kata Malang ada fonim em-a-l-a-eng gitu ya. Jadi, ‘eng’-nya ini yang di depan kemudian menjadi Ngalam gitu. Kemudian klambi misalnya itu menjadi imblak bukan ibmalk gitu ya,” terangnya.
Baca juga:
83 Persen Generasi Muda Bangga dengan Budaya Malangan
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Dr Ahmad Imron Rozuli SE MSi melihat Boso Walikan ini memang sedang mengalami degradasi atau titik krusial. Generasi muda banyak yang jarang mendengar ragam bahasa lokal ini.
“Nah, karena jarang dengar inilah maka kemudian perlu dipantik lagi meskipun sekarang cukup beragam bahasanya generasi sekarang. Tapi bahasa walikan itu sangat bisa dihidupkan kembali. Karena ada relation yang setara di dalamnya,” terang Imron.
Baca juga:
Pemkot Malang Ajak Lestarikan Osob Kiwalan Warisan Hamid Rusdi
Menurutnya, ketika masyarakat mau melestarian warisan sejarah lokal ini, nilai-nilai itu akan menjadi identitas bagi masyarakat. Oleh karenanya, baik Renzi maupun Imron mendorong penggunaan Bowo Walikan di ruang publik. Sebab, bahasa ini menyimpan memori sosial warga Malang serta merefleksikan karakter warga Malang yang terbuka dan egaliter.
Penggagasnya bisa pemerintah, komunitas lokal atau pelaku usaha. Contohnya seperti papan penanda atau petunjuk di Kayutangan, alun-alun, tempat wisata hingga nama menu di kafe atau restoran. (YOLANDA)





