83 Persen Generasi Muda Bangga dengan Budaya Malangan

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Identitas budaya Malangan tampaknya masih cukup kuat pengaruhnya dan belum tergeser arus budaya global yang masuk ke Indonesia. Dalam jajak pendapat Indopol Survey and Consulting bekerja sama dengan Laboratorium Politik dan Tata Pemerintahan (LPTP) Universitas Brawijaya terhadap 600 responden (450 responden asli Malang dan 150 responden perantau), terungkap bahwa 83,7 persen responden bangga dengan identitas budaya Arema atau Malangan.
Bahkan, 65 persen di antaranya mengaku aktif atau menghadiri kegiatan seni budaya dalam satu tahun terakhir. Jika menelisik lebih dalam, sebanyak 74 persen responden asli Malang cukup aktif terlibat dalam kegiatan seni budaya. Dibandingkan dengan responden perantau yang hanya 37 persen yang mengaku terlibat aktif dalam seni budaya Malangan.
Ketua Tim Peneliti Ratno Sulistyanto menjelaskan juga bahwa 92 persen responden tersebut mengaku memahami Osob Kiwalan atau Boso Walikan khas Malang. Minimal mengetahui secara pasif, sebab hanya 19 persen responden yang aktif menggunakan Boso Walikan dalam percakapan sehari-hari.
Baca juga:
Wisata Budaya, Bisakah Jadi Daya Tarik Pariwisata Kota Malang?
Kalangan Gen Z, pelajar dan mahasiswa mencatatkan penggunaan Boso Walikan paling rendah yaitu hanya 13 persen dari pada Gen Milenial. Hal ini menunjukkan bahwa Osob Kiwalan semakin berjarak dengan generasi termuda jika tidak ada intervensi yang relevan.
“Generasi muda Malang menunjukkan pola yang menarik. Identitas budaya lokal tetap menjadi kebanggaan kolektif. Tetapi dalam praktiknya sehari-hari, dari bahasa hingga hiburan, semakin bersaing dengan arus budaya populer global,” kata Ratno yang juga Direktur Eksekutif Indopol Survey and Consulting.
Hal ini diperkuat dengan hasil survei yang menunjukkan 56 persen responden yang lebih tertarik dengan budaya dari luar seperti K-Pop dan sejenisnya. Daya tarik ini paling kuat memengaruhi Gen Z, pelajar dan mahasiswa. Meski begitu, loyalitas konsumsi terhadap produk lokal tetap solid.
Baca juga:
Melek Aksara Jawa, Bukan Sekedar Warisan
Sebanyak 70 persen responden lebih memilih membeli produk UMKM lokal atau ekraf Malang dari pada produk luar kota atau merek nasional. Setidaknya 86 persen membeli produk ekraf lokal dalam sebulan terakhir. Menariknya, kelompok mahasiswa perantau justru menjadi konsumen paling aktif (high-frequency consumers) membeli produk ekraf lokal.
“Sebanyak 76 persen di antaranya melakukan pembelian berulang (2 kali atau lebih dalam sebulan). Jauh di atas warga ber-KTP Kota Malang yang hanya 40 persen,” lanjutnya.
Untuk mencari informasi maupun konten budaya lokal, TikTok menjadi kanal digital paling dominan dengan pangsa 44 persen. Ini semakin menguatkan pentingnyaformat video pendek dalam strategi pelestarian dan promosi budaya Malang kepada generasi muda.





