Menjaga Tahura Raden Soerjo dari Kebakaran

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Selama periode El Nino, Tahura Raden Soerjo telah beberapa kali mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo Agustiningtyas Marini menyebut pada Juli kemarin ada 4 titik yang terbakar seluas 73,6 hektar.
Area kebakaran semakin meluas pada Agustus, yang teridentifikasi mencapai 146,8 hektar lahan. Titik api sempat padam pada Jumat (21/8/2026) dan muncul kembali keesokan harinya. Titik-titik api baru itu muncul di sekitar Putuk Pelawangan, tebing utara Puncak Arjuno (mengarah ke timur).
“Jadi yang terpantau saat ini yang masih ada titik api itu ada di sekitar Putuk Pelawangan sama Tebing Utara Puncak Arjuno yang mengarah ke arah timur. Sampai dengan hari ini masih belum bisa dipadamkan karena medannya cukup curam gitu ya. Pagi ini kami akan lakukan water bombing untuk pembasahan di wilayah yang masih ada asap atau titik api,” terang Tyas.
Simak di sini:
Tyas menjelaskan bahwa wilayah Tahura Raden Soerjo yang seluas 27.868 hektar ini, area yang rawan karhutla adalah di sisi timur yaitu Pasuruan dan sebagian wilayah Kabupaten Malang. Bahkan pada tahun 2023, 5.000 hektar kawasan hutan hangus dilahap si jago merah.
Perempuan berkacamata itu mengatakan penyebab kebakaran hutan dan lahan 99 persen akibat kelalaian manusia. Contohnya pemburu liar yang membuat perapian untuk menghangatkan diri di dalam hutan. Ada juga yang membuang puntung rokok sembarangan. Bahkan, ada yang memang sengaja membakar hutan untuk membuka lahan.
Sebagai langkah kewaspadaan, pihaknya membentuk satgas mitigasi dan menyusun peta kerawanan. Kemudian, meningkatkan patroli pada malam hari untuk mengantisipasi aktivitas-aktivitas ilegal serta mengedukasi penduduk desa penyangga. Tentunya, berkolaborasi dengan Perhutani, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan unsur perangkat daerah sekitar.
Baca juga:
Drone Berbayar di Tahura Raden Soerjo Demi Konservasi?
Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho menambahkan hasil pantauan timnya pada 22 Agustus 2026, ada 4 titik api yang menuju ke Kota Batu. Antara lain Gunung Kembar 1 dan 2, serta Sabana 2 Lembah Kijang.
“Karena di sana ada vegetasi-vegetasi kering dan cemara-cemara hutan yang sudah terbakar. Jadi di sana kami melakukan kaji cepat, koordinasi dengan UPT Taura Raden Suryo. Terus kami juga mendistribusi bantuan logistik untuk mendukung kesiapsagaan operasi petugas dalam hal penanganan kebakaran baik dengan manual maupun dengan water bombing,” terangnya.
Ia mengatakan upaya Pemkot Batu meminimalisasi telah dilakukan jauh hari. Mulai dari menyusun kawasan risiko bencana dan rencana kontinjensi karhutla. Lalu Wali Kota Batu juga telah menerbitkan SK status siaga darurat karhutla dan kekeringan untuk memudahkan mobilisasi SDM, logistik dan peralatan.
Sementara itu, Kepala Pusat Studi Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya Mukhammad Fathoni berpendapat pemerintah dapat mengaktifkan kembali Destana maupun Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB).
“Dari sisi K3 lingkungan, kesehatan keselamatan kerja lingkungan dan juga kesehatan masyarakat, dampak kebakaran ini memang luar biasa. Tidak hanya kesehatan, ekonomi, tapi juga degradasi ekosistemnya. Ini tidak bisa berfungsi lagi. Kemudian ada risiko kerusakan yang masif. Nah, sehingga harapannya ini tidak terjadi lagi,” terangnya.





