Market Bunga Potong di Kota Batu Belum Pulih Total Sejak Pandemi

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Sebagai salah satu daerah produsen bunga, Kota Batu terus menjadi destinasi utama bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam dalam satu paket. Tak hanya memanjakan mata turis domestik, komoditas bunga potong dari Kota Batu ini juga rutin memasok kebutuhan pasar besar di luar daerah. Mulai dari Surabaya, Bali, hingga Jakarta.
Desa Gunungsari menjadi salah satu sentra penghasil bunga terbesar di Kota Batu. Serta menjadi motor penggerak distribusi mawar ke berbagai kota metropolitan tersebut.
Namun, di balik keindahannya, para pelaku usaha bunga potong di Kota Batu masih harus berjuang lebih keras. Salah satunya adalah Ahmad Yusuf, seorang petani sekaligus pengepul mawar yang telah menggeluti bisnis ini sejak tahun 2005.
Meskipun usahanya mampu bertahan lebih dari dua dekade, Yusuf mengakui bahwa industri bunga potong di Gunungsari belum sepenuhnya pulih pasca pandemi COVID-19.
“Dahulu dalam seminggu kami bisa kirim sampai tiga kali. Tapi kini kami cuma bisa kirim dua kali seminggu,” ujar Yusuf di sela kesibukannya.
Dalam sekali pengiriman, Yusuf memasok sekitar 3.000 tangkai bunga mawar. Pasokan tersebut ia kumpulkan dari lahan miliknya pribadi serta serapan dari hasil panen warga sekitar. Biasanya, para pedagang dari Surabaya akan datang langsung untuk mengambil pasokan mawar tersebut.
Saat ini, mawar dari tingkat petani di Gunungsari dihargai Rp1.000 per batang. Angka ini terbilang timpang jika membandingkannya dengan mawar asal Bandung yang seharga Rp2.000 hingga Rp2.500 per batang.
Secara kualitas, Yusuf yakin bahwa mawar Kota Batu sebenarnya mampu bersaing ketat dengan produk asal Bandung. Asalkan didukung oleh perawatan yang intensif dan memadai.
Sayangnya, realita di lapangan tidak seindah warna kelopak mawar. Keinginan petani untuk meningkatkan kualitas perawatan terbentur oleh tingginya biaya operasional.
“Walaupun kualitas bisa dikejar, harga jualnya saat ini tidak memadai. Harga pupuk dan obat-obatan pertanian terus naik, sementara harga jual bunga cenderung stagnan,” keluhnya.
Kata Yusuf, fluktuasi harga mawar di tingkat petani lokal berjalan sangat lambat selama dua dekade terakhir. Pada awal ia merintis usaha di era 2005 hingga 2010, harga mawar berada di kisaran Rp400 hingga Rp600 per batang.
Harga tersebut kemudian merangkak naik perlahan menjadi Rp800, Rp900, hingga akhirnya tertahan di angka Rp1.000 per batang. Kondisi ini, menurut Yusuf, terjadi akibat adanya kesepakatan di tingkat pengepul besar atau tengkulak.
“Harganya mentok di seribu rupiah. Ini karena para pedagang (besar) sudah kompak untuk membeli bunga dengan harga pasaran seribu rupiah itu,” pungkas Yusuf.
Editor: Intan Refa




