KKN-T Unira Malang Ditutup dengan Nobar Film Dokumenter “Asta Pesona Desanesia”

CITY GUIDE FM, KABUPATEN MALANG – Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang tahun akademik 2025/2026 ditutup dengan agenda nonton bareng (nobar) film “Asta Pesona Desanesia 2026” pada Rabu (2/9/2026). Film karya kreatif mahasiswa ini bertajuk “Merajut Karya, Menghidupkan Potensi, dan Meninggalkan Jejak Bermakna bagi Desa”.
Para mahasiswa KKN-T menyaksikan film dokumenter itu di Hall KH Moch Said Unira Malang. Ketua pelaksana kegiatan Dr Alif Achada MPd mengatakan bahwa penutupan KKN tahun ini bukan hanya momentum mengakhiri rangkaian pengabdian mahasiswa. Tetapi juga ruang untuk mengapresiasi karya mahasiswa dalam merekam potensi desa melalui pendekatan visual.
“Penutupan KKN tahun ini berlangsung meriah dengan tema Asta Pesona Desanesia. Acara ini menjadi salah satu panggung untuk mengapresiasi hasil karya video sinematik bagi peserta KKN tahun ini,” ujar Alif.
Baca juga:
UNIRA Malang Terjunkan 162 Mahasiswa KKN Tematik ke 8 Desa
Film dokumenter desa ini menggambarkan pengalaman mahasiswa menjalani live-in di desa, mengangkat potensi serta kearifan lokal yang menjadi identitas masing-masing desa serta keindahan alamnya.
Sementara itu, Kepala LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Unira Malang Abdillah menilai keterlibatan masyarakat dalam proses produksi menjadi bagian penting dari karya ini. Mahasiswa berperan aktif berinteraksi dengan masyarakat untuk memahami cerita, potensi, dan kehidupan desa secara lebih dekat.
“Dalam karya delapan video sinematik diharapkan akan abadi. Serta menjadi warisan visual yang menginspirasi dan sarat akan makna,” ungkap Abe, sapaan akrabnya.
Baca juga:
Bangun Mental Pengabdi, UNIRA Malang Gelar Seminar Pemberdayaan Psikologis
Dalam sambutannya Rektor Unira Malang H Imron Rosyadi Hamid SE MSi PhD mengapresiasi ide film dokumenter Asta Pesona Desanesia tersebut.
“Festival Film Dokumenter Desa tersebut, mempertegas orientasi Unira Malang yang menempatkan desa sebagai ruang belajar sekaligus ruang kolaborasi. Mahasiswa harus mampu mengidentifikasi potensi lokal, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menerjemahkan pengalaman pengabdian menjadi karya yang memberikan nilai tambah bagi desa,” katanya.
Ketika sebuah potensi desa berhasil direkam dan diceritakan dengan baik, maka pengalaman pengabdian mahasiswa tidak berakhir ketika mereka meninggalkan desa. Kedelapan desa yang muncul dalam film tersebut ada Desa Srigonco, Senggreng, Sumber Tempur, Bangelan, Ngawonggo, Kidal, Langlang dan Toyomarto.
Di akhir kegiatan nobar ini, Unira Malang memilih pemenang film dokumenter terbaik yang jatuh di Desa Kidal sebagai juara pertama, lalu Desa Bangelan dan Sumber Tempur. Pada akhirnya, Asta Pesona Desanesia menjadi perayaan atas sebuah perjalanan. Mahasiswa datang untuk belajar, masyarakat menjadi mitra untuk berkarya, dan desa meninggalkan cerita yang diabadikan dalam karya visual. (srv)





