Hari Ke-6 Pemadaman TPA Supit Urang, Petugas Siasati Arah Angin

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Memasuki hari keenam pemadaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kelurahan Mulyorejo, petugas pemadam kebakaran memprioritaskan titik-titik panas (hotspot) di zona old landfill sisi barat. Lokasi ini adalah titik awal munculnya api.
Meski titik api sudah sangat minim, petugas masih harus memastikan bara api yang tersisa benar-benar terkendali. Hembusan angin masih menjadi tantangan utama. Sehingga strategi pemadaman diatur berdasarkan waktu dan perubahan cuaca demi menjaga keselamatan personel.
“Pagi ini kami fokus di zona old landfill sisi barat, melanjutkan penanganan kemarin. Tepatnya di titik ini api pertama kali muncul,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Kota Malang Pandu Rizki Darmawan, Senin (26/10/2026).
Baca juga:
Pemadaman TPA Supit Urang, Petugas Waspadai Hembusan Angin dan Hotspot
Kata Pandu, operasi di zona ini hanya optimal pada pagi hari, rentang pukul 06.00-11.00 WIB. Sebab, setelah melewati waktu tersebut, arah angin berubah ke barat dan membawa kepulan asap ke area kerja petugas.
Kondisi itu berpotensi membahayakan keselamatan personel karena paparan asap dapat membatasi ketersediaan oksigen. Karena itu, setelah pukul 11.00 WIB, petugas akan menghentikan aktivitas di zona tersebut dan mengalihkan operasi ke area lain.
“Penentuan zona ini tentatif, melihat perkembangan kondisi cuaca. Yang pasti, keselamatan personel harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Setelah istirahat, makan, dan ibadah (isoma), sekitar pukul 12.30 WIB, tim akan melanjutkan penyemprotan di zona berbeda.
Dalam operasi hari keenam ini, sekitar 35–40 personel diterjunkan langsung ke titik pemadaman. Mereka berasal dari sejumlah unsur, yakni Damkar Kota Malang, Damkar Kabupaten Malang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang.
Untuk mendukung operasi, tujuh unit armada disiagakan. Satu unit berfungsi sebagai kendaraan utama untuk melakukan penyemprotan, sedangkan enam unit lainnya bertugas memasok air ke lokasi pemadaman.
“Suplai air jangan sampai terputus. Kalau terputus, upaya menghentikan hotspot menjadi kurang efektif. Jadi, air harus terus tersuplai dengan lancar,” pungkasnya.
DLH ajukan ecoplast ke Kemendagri
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menyiapkan langkah pencegahan. Salah satunya memasang ecoplast untuk menutup timbunan sampah dan menghambat masuknya oksigen.
“Untuk menghambat bara itu muncul kembali, harapannya mudah-mudahan tidak sampai satu bulan. Kita akan memasang ecoplast. Setelah itu, sampah ditutup kembali sehingga tidak ada udara yang masuk ke bagian bawah,” kata Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang.
Baca juga:
Imbas Kebakaran TPA Supit Urang, Stok Air Pemadam Menyusut Drastis
Ia mengatakan pertimbangan menggunakan ecoplast adalah jalan keluar mengatasi keterbatasan anggaran pengurukan tanah. Ecoplast dapat dipasang langsung di atas timbunan dengan bantuan pasak, tanpa harus melalui proses penutupan menggunakan tanah dan alat berat.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Raymond telah mengusulkan pengadaan ecoplast melalui bantuan Kementerian Dalam Negeri dalam program pengolahan sampah. Selain pengendalian bara api, pihaknya juga akan fokus membenahi struktur timbunan sampah.
“Ke depan mungkin kami akan mengusulkan adanya sekat. Dengan pengalaman kebakaran kemarin, tumpukan sampah yang selama ini kita buat sekatnya sudah lebih dari 20 sampai 30 meter. Teman-teman saat naik ke atas ada keraguan karena takut sampahnya longsor,” ujarnya.
Editor: Intan Refa





