Ekonomi BisnisNews

Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu/Kg, TPID Kota Malang Cari Solusi

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memetik cabai di poktan Lesanpuro, Kedungkandang. (Foto: Heri Prasetyo)
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memetik cabai di poktan Lesanpuro, Kedungkandang. (Foto: Heri Prasetyo)

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Harga sejumlah bahan pokok terpantau mengalami kenaikan, seiring dengan aktivitas mahasiswa yang kembali normal turut meningkatkan kebutuhan konsumsi. Di Pasar Gadang dan Madyopuro, Kota Malang harga cabai tercatat mulai Rp85 ribu/kilogram hingga menembus Rp100 ribu/kilogram.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengungkapkan pasokan cabai dari Jawa Tengah dan Banyuwangi telah masuk di Kota Malang. Namun ternyata hal tersebut belum mampu mengendalikan harga di pasaran.

“Artinya tambahan pasokan belum cukup mengendalikan harga. Kita akan lihat skenarionya seperti apa,” jelasnya.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang lantas mendatangi sejumlah kelompok tani pada Rabu (4/3/2026). Yaitu di Poktan Sido Makmur RW 5 Lesanpuro dan Poktan Sadar Jaya, Kecamatan Kedungkandang.

Baca juga:

Jelang Ramadan, Harga Daging Ayam Tembus Rp40 Ribu/Kg

“Kita melihat kondisi dari data sebelumnya dan kondisi terkini. Dari situ kita cek hulunya, yakni di petani cabai dan ayam potong. Apalagi menjelang hari raya, permintaan meningkat meski harga cabai sudah tinggi,” ujar Wahyu.

Pemerintah Kota Malang akan membeli cabai dari petani dengan harga sekitar Rp80 ribu dan menjualnya kembali di pasar dengan harga yang sama. Agar pedagang lain menyesuaikan harga.

“Kita akan petakan bersama TPID apakah perlu tambahan pasokan, operasi pasar atau penguatan potensi lokal. Yang jelas, kita ingin Ramadan tahun ini masyarakat tenang dan petani tetap sejahtera,” ujar Wahyu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang Slamet Husnan Hariyadi menjelaskan luas lahan cabai di Lesanpuro adalah 4.000 meter persegi dengan 4.500 pohon varietas Kaliber dan Ori 212. Hasil panen puncak bisa mencapai 3 kuintal dalam satu kali petik.

“Namun tidak bisa dihitung serentak, karena setiap lahan memiliki masa tanam dan masa panen berbeda. Ada yang sudah panen ke-12 bisa menghasilkan 3 kuintal, ada yang panen kedua baru 80 kilogram,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Sido Makmur Sunarto mengungkapkan harga tinggi memang menguntungkan petani. Pada panen pertama, harga mencapai Rp75 ribu per kilogram dan panen kedua naik menjadi Rp90 ribu per kilogram.

Namun, musim hujan membawa tantangan tersendiri. Serangan hama trips dan penyakit meningkat sehingga frekuensi penyemprotan bertambah.

“Kalau musim normal cukup seminggu sekali, sekarang bisa dua sampai tiga kali seminggu. Biaya produksi jadi jauh lebih tinggi,” jelasnya.

Cabai kecil ditanam sejak akhir Oktober 2025 dengan sistem tumpang sari bersama tomat. Masa panen diperkirakan bisa mencapai 25 kali petik.

Reporter: Heri Prasetyo

Editor: Intan Refa

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button