Bersedekah Lewat Sepatu Untuk Anak Tak Mampu

Alfianto menjalankan program donasi sepatu hingga ke belahan timur Indonesia

Berawal dari menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Dampit, Kabupaten Malang tahun 2017 silam, Alfianto Setiawan menilai, sepatu untuk sekolah menjadi barang yang terlewat ketika orang atau organisasi memberikan bantuan. Dari situlah pria yang sehari-harinya bekerja sebagai PNS di Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraon ini membentuk Yayasan 1000 Sepatu.

Yayasan yang bermula dari gerakan di Facebook ini, mendistribusikan sepatu baru gratis bagi anak-anak yang membutuhkan. Sepatu yang dikumpulkan bahkan ada yang dikirimkan sampai ke luar Malang dan luar Pulau Jawa. Yakni Blitar, NTT, NTB, Kalimantan hingga Papua. Dirinya bahkan menyempatkan waktu untuk memberikan sendiri sumbangan sepatu ini.

Pada Radio City Guide FM dirinya menjelaskan, lokasi yang paling sering mendapatkan bantuan sepatu gratis yakni  di kawasan Kabupaten Malang. Seperti Bantur, Donomulyo, Pagak hingga Sumbermanjing Wetan. Khusus di Kota Malang, hampir semua kecamatan pernah mendapatkan bantuan.

Sistem pemberian bantuan sepatu ini dilakukannya dengan sistem Open Donasi. Warga yang ingin membantu bisa memberikan bantuan dana yang akan ditampung di Yayasan 1000 Sepatu miliknya. Dana yang terkumpul akan langsung dibelanjakan sepatu baru.

Biasanya jika tidak dalam jumlah besar, Alfianto akan membelinya di Pasar Besar. Jika permintaannya banyak, maka ia akan membeli sepatu langsung di pabrik sepatu di Mojokerto.

Namun ditengah pandemi covid-19 ini sekolah berlakukan belajar secara daring, permintaan dari relawan maupun guru yang biasa melaporkan kebutuhan sepatu juga melandai jumlahnya. Kebanyakan memang diantar ke sekolah-sekolah tempat anak-anak membutuhkan sepatu. Namun karena masa pandemi Covid-19, dan ia pun bekerja di rumah sakit, maka kebiasaan ini diubah.

Ia tidak mau mengambil risiko dan membahayakan anak-anak yang akan ditemuinya jika mengantar sendiri sepatu-sepatu tersebut. “Sejak awal pandemi kita mengirim kurang lebih 100 pasang sepatu. Ndak banyak memang, kadang-kadang antar satu sampai tiga pasang setiap hari. Tergantung permintaan,” kata pria asli Malang ini.

Program ini tetap dibukanya. Yayasan 1000 Sepatu yang dibentuknya ini pun masih menerima donasi bagi yang hendak menyumbang. Akan tetapi Alfianto berpandangan bahwa ia tidak ingin bergantung pada donasi orang lain secara terus menerus, walaupun rekan bahkan dokter di tempat ia bekerja juga menyisihkan rejeki untuk menyumbang.

Kedepan ia ingin membuat yayasannya berkembang dan memiliki usaha. Sehingga hasil usaha dari yayasan ini bisa dibuat untuk membeli sepatu dan melanjutkan gerakan 1.000 sepatu.

Seiring menurunnya kasus penularan covid-19 sekarang ini, dan sekolah sudah memulai pemelajaran tatap muka, permintaan donasi sepatu mulai meningkat. Namun pria lulusan SMAN 5 Malang ini untuk sementara membatasi hanya menyalurkan untuk area Malang Raya. “Sementara kita batasi untuk Malang aja, terakhir kemarin kita salurkan di daerah Kotalama dan beberapa di Kabupaten Malang,” ucap Alfian.

Kebaikan tidak butuh alasan, begitulah yang disampaikan lulusan Fakultas IT UNMER malang ini, karena saat bertanya pada diri sendiri tentang alasan dan motivasii, dirinya malah sama sekali tidak menemukannya. Namun, rasa puas bercampur gembira selalu terasa saat melihat anak-anak yang ia bantu menerima sepatu baru.

Alfian berharap, kedepan yayasan yang dikelolanya ini mampu memberikan hal yang lebih. Seperti pelatihan kerja atau menyalurkan guru pengajar untuk daerah terpencil, namun saat ini dirinya mengaku untuk saat ini lebih focus ke Gerakan Seribu Sepatu. “ndak muluk-muluk dulu, untuk saat ini yang penting sepatunya anak Indonesia ndak ada yang jebol, itu aja dulu,” tandasnya. (AN/GS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Radio


x
%d blogger menyukai ini: