Agustusan Meriah, Ekonomi Lokal Bergairah?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Semarak perayaan Agustusan memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-81, tampaknya tidak berbanding lurus dengan geliat ekonomi lokal Kota Malang. Menurut Owner Soak Ngalam Tjandra Purnama Edhi, ada kesenjangan antara kunjungan wisatawan dengan dampak ekonomi para pelaku usaha.
“Kalau dari data BPS, kunjungan ke Malang 21 persen per tahun, (artinya) mengalami kenaikan. Tapi (kenaikan) kepada pelaku usaha tidak sebesar itu. Saya amati, karena mereka rata-rata tidak menginap di Malang. Jadi mereka hanya masuk ke Malang tapi tidak untuk menginap. Kalaupun ada yang menginap mereka tidak bertahan sampai dengan 2 hari, jadi 1 hari saja,” jelasnya.
Malang lebih sering jadi tempat transit sebelum melanjutkan perjalanan. Pengeluaran juga lebih banyak terserap untuk kuliner, sementara belanja oleh-oleh menyusut. Apalagi, sebagian besar kegiatan Agustusan masih bersifat lokal dan menyebar di kampung-kampung.
Simak di sini:
Sehingga keramaian tidak mengalir di pusat Kota Malang. Tjandra menyarankan pemerintah Kota Malang mengakomodasi kegiatan-kegiatan lokal itu menjadi event kota. Sehingga, akan menarik animo masyarakat untuk berkumpul di Kota Malang.
“Kalau saya amati bahwa justru di momen-momen liburan seperti ini, saya melihat Kota Malang itu tidak menyikapi momen liburan itu ditangkap sebagai peluang. Lalu kemudian mengadakan event atau apa yang bisa menahan mereka untuk lebih lama tinggal atau berada di Malang,” lanjutnya.
Meskipun, banyak event di kampung-kampung, ada banyak pelaku usaha yang mengeluhkan dukungan pemerintah tidak begitu terasa. Mereka harus mencari informasi secara mandiri dan biaya sewa stan yang relatif mahal untuk skala UMKM.
Baca juga:
Program Seribu Event Disebut Gerakkan Ekonomi Kota Malang
Sementara itu, Kabid Usaha Mikro Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota Malang Farid Suaidi menyebut bahwa sektor yang paling terdongkrak dalam Agustusan kali ini adalah kuliner, kerajinan dan fashion.
Kata Farid, Kota Malang memang tidak memiliki agenda khusus Agustusan. Tapi pihaknya mendorong para pelaku usaha atau UMKM untuk berpartisipasi dalam bazar dan sejenisnya.
“Kalau program khusus kami tidak ada. Tapi yang pasti kami menggerakkan seluruh pelaku usaha, terutama komunitas-komunitas itu untuk membuat event dengan beberapa stakeholder,” kata Farid.
Lebih jauh, Farid mendorong para pelaku usaha untuk ekspansi ke pasar luar Malang, agar tidak bergantung pada pasar domestik. Sebab, tantangan saat ini adalah daya beli yang menurun, sehingga banyaknya event tidak serta merta meningkatkan transaksi.
Muncul rekomendasi masyarakat kepada Pemkot Malang agar mengemas kegiatan lokal seperti karnaval Agustusan menjadi event besar tingkat kota. Tujuannya tidak lain agar menahan durasi tinggal wisatawan di Kota Malang. (WL)





