Stadion Kanjuruhan Rusak, Bagaimana Pengawasannya?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Usai Tragedi Kanjuruhan yang menelan ratusan korban, Presiden Joko Widodo waktu itu menginstruksikan untuk membangun ulang Stadion Kanjuruhan pada tahun 2023 dan selesai pada tahun 2024. Namun selang dua tahun kemudian, kondisi stadion megah itu mengalami kerusakan di berbagai sisi.
Kabid Sarana Prasarana Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Malang Ratna Indriyani mengatakan ada kebocoran dan kerusakan baik pada atap, tribun, gedung kantor, toilet dan lobi. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, pihaknya tentu perlu melakukan rehabilitasi menyeluruh dan terstruktur. Tapi kendalanya ada pada status pengelolaan stadion pasca renovasi.
“Secara status, Stadion Kanjuruhan ini masih posisi BASTO (Berita Acara Serah Terima Operasional). Jadi secara BAST (Berita Acara Serah Terima) masih belum diserahterimakan ke Kabupaten Malang,” terang Ratna.
Implikasinya, Pemkab Malang hanya dapat menggunakannya untuk operasional harian, termasuk menarik retribusi sewa. Namun, tidak berwenang melakukan renovasi atau menganggarkan pemeliharaan bangunan fisik.
Ratna mengaku telah berkali-kali melayangkan surat terkait kondisi stadion kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Namun belum ada jawaban sampai pada akhirnya pihaknya melayangkan surat langsung ke Kementerian PUPR pada 29 Mei kemarin.
Baca juga:
Stadion Kanjuruhan Berpredikat “Baik”, Penuhi Syarat Pertandingan
Hal ini diperkuat dengan sidak yang dilakukan oleh Anggota Komisi 4 DPRD Kabupaten Malang Zulham Akhmad Mubarok beberapa waktu lalu. Ia merinci beberapa temuan kerusakan di Stadion Kanjuruhan.
“Ternyata problem awalnya adalah kebocoran air yang merusak semuanya. Jadi pengelupasan coating (lapisan anti air) itu ada di tiga tribun yaitu selatan, timur dan utara. Akhirnya air masuk. Nah, pada lantai satu yang berfungsi sebagai penyimpanan alat, itu merembes akhirnya banyak yang rusak terus plafon jatuh. Masalahnya di coatingnya itu, 3 tribun itu luas betul,” terang Zulham.
Padahal stadion yang digadang-gadang sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia ini, asetnya tentu harus mendapat perawatan yang baik pula.
“Sebenarnya investasi yang paling mahal di stadion itu sistemnya. Karena kita pakai sistem BAS (Building Automation System) namanya. Ini semacam smart sistem untuk seluruh aset,” terangnya.
Artinya, sistem ini mengontrol otomatisasi air, lampu, monitor suara, suhu hingga CCTV dengan face recognition. Kata Zulham, tidak banyak stadion di Indonesia yang memiliki sistem ini. Sayangnya, sistem canggih itu tidak sejalan dengan kualitas bangunan fisiknya.
Usai sidak dari Komisi D DPRD Kabupaten Malang, kabarnya PT Waskita Karya mendatangi lokasi dan melakukan perbaikan menyeluruh. Zulham menekankan Pemkab Malang hanya akan menerima penyerahan aset secara menyeluruh (BAS) jika kondisi fisik telah mendapat perbaikan tuntas.
Selain itu, pihaknya juga mendorong penambahan atap di sekeliling tribun dengan estimasi biaya sebesar Rp60 miliar kepada Kementerian PUPR. Selanjutnya, setelah serah terima BAST, Pemkab Malang rencananya akan mengkaji skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) dengan pihak ketiga. Sebagaimana pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) atau Indomilk Arena Tangerang. (Yolanda Oktaviani)
Simak di sini:





