Petani Kota Batu Menolak Punah

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Regenerasi petani di Kota Batu tampaknya tengah menghadapi jalan terjal demi eksistensi pertanian tidak punah. Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Hariyadi Agung Setiyana mengungkapkan dari 20 ribu petani yang terdata, hanya 10 persen atau 2 ribu orang saja yang tergolong petani muda (19-40 tahun).
“Prosentasenya masih sangat kecil untuk keberlanjutan. Jadi kami berusaha untuk petani muda ini terus timbul di Kota Batu,” kata Hariyadi.
Masih kentalnya persepsi yang kuat bahwa hidup petani sengsara atau tidak seimbang antara proses dan hasilnya membuat generasi penerus lebih memilih profesi atau pekerjaan lain. Banyak yang lebih tertarik bekerja di sektor pariwisata, seperti kafe, perhotelan dan lain-lain yang penghasilannya lebih stabil.
Simak di sini:
Dalam hal ini, pihaknya berupaya menggaet pemuda-pemudi agar lebih tertarik pada pertanian lewat program pelatihan “Petani Muda Berjaya” atau PMB yang saat ini telah memasuki tahun ketiga. Selain itu, pembentukan koperasi multipihak Coosae dapat menjadi mitra untuk menampung dan menyalurkan hasil panen.
Saat banyak pemuda enggan terjun ke sektor pertanian, Rifki Nur Adian Firmansyah justru punya pemikiran yang berbeda. Ia menjadi satu dari segelintir pemuda Kota Batu yang totalitas ke sektor pertanian, tepatnya petani stroberi.
“Jadi ini saya sekarang memutuskan menjadi petani karena tersesat di jalannya benar. Sebelumnya saya tidak ada milestone untuk menjadi seorang petani. Jadi saya tuh sebenarnya lulusan dari Polinema Jurusan Administrasi Niaga. Karena dulu saya menginiasi desa wisata akhirnya saya nyempung sekalian, wis berenang sekalian untuk jadi petani stroberi,” cerita Rifki.
Baca juga:
Nurochman Dorong Smart and Integrated Farming Atasi Masalah Regenerasi Petani
Menurutnya, pertanian itu adalah profesi yang menarik karena ia bisa mempelajari dan mengembangkan teknologi pertanian. Walaupun mengalami delapan kali gagal dan baru berhasil di percobaan kesembilan, Rifki menyadari bahwa sektor pertanian di Kota Batu cukup tebal cuannya jika ditekuni.
Sebab, pertanian dan pariwisata menjadi sektor yang saling menopang di Kota Batu yang sangat potensial jika dikolaborasikan. Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Universitas Brawijaya Sujarwo berpendapat sektor pertanian saat ini harus berubah orientasinya. Dari semula production oriented tergantung musim, menjadi market oriented dengan bantuan teknologi.
“Disruption era itu akan menimpa semuanya, kecuali produk pertanian. Sehingga kemudian bagaimana teknologi itu bisa membantu di kegiatan produksi supaya memenuhi kebutuhan di pasar. Jadi bukan lagi production oriented, tetapi kemudian
bagaimana market oriented itu bisa terpenuhi,” terangnya.
Ia menyarankan agar para petani muda ini berjejaring, agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Salah satu tujuannya agar dapat mengakomodir permintaan pasar skala besar. Pemerintah juga harus mampu membuktikan bahwa petani itu memiliki nilai ekonomi yang sama besarnya dengan pegawai kantoran atau karyawan. Menurutnya, ini menjadi cara agar para pemuda tertarik pada pertanian. (NURUL FITRIANI)





