Lebih dari 10 SD Kota Malang Kekurangan Murid, Opsi Merger Dikaji Lagi

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang mencatat lebih dari 10 sekolah dasar (SD) negeri mengalami kekurangan murid pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027. Kondisi tersebut membuat opsi penggabungan (merger) sekolah kembali dikaji.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Muflikh Adhim mengatakan fenomena kekurangan murid tidak hanya terjadi di Kota Malang. Sejumlah daerah lain di Indonesia juga mengalami hal serupa.
“Ada beberapa SD negeri yang memang kekurangan murid. Secara nasional juga banyak SD negeri yang mengalami kondisi serupa, terutama di kota-kota yang jumlah sekolahnya cukup banyak,” kata Muflikh, Senin (6/7/2026).
Ia menyebut, ada beberapa sekolah yang hanya memperoleh lima hingga enam siswa dalam satu rombongan belajar. Namun, tidak ada sekolah yang hanya memperoleh satu atau dua siswa.
Baca juga:
SD di Kota Malang Kembali Kekurangan Murid, Nyaris Merata
“Kalau secara normal pagunya 28 siswa per kelas. Lebih dari itu juga tidak diakui dalam Dapodik,” ujarnya.
Menurut Muflikh, jumlah sekolah yang kekurangan murid mencapai lebih dari 10. Pihaknya masih belum memutuskan langkah penggabungan sekolah. Meski opsi tersebut sudah jadi pembahasan sejak beberapa tahun terakhir.
“Merger masih menjadi opsi. Kami masih melihat hasil analisisnya terlebih dahulu,” katanya.
Muflikh memastikan minimnya jumlah siswa belum berdampak terhadap beban mengajar guru. Selama guru masih memenuhi ketentuan minimal 24 jam mengajar, hak mereka, termasuk sertifikasi, tetap aman. Sementara itu, untuk mengisi kekurangan kuota, pihaknya akan membuka pendaftaran secara luring setelah tahapan SPMB daring selesai.
Ia menambahkan, calon peserta didik dari luar Kota Malang, termasuk Kabupaten Malang, berpeluang mengisi sisa kuota apabila masih tersedia. Muflikh mengungkapkan, sekolah yang kekurangan murid justru banyak berada di kawasan pusat Kota Malang.
Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah perubahan fungsi kawasan perkotaan yang kini lebih banyak menjadi pusat aktivitas ekonomi dan rumah kos.
“Justru di tengah kota banyak yang kekurangan murid. Sekarang kawasan tengah kota bukan lagi wilayah hunian. Wilayah hunian bergeser ke pinggiran, sedangkan di pusat kota lebih banyak kos-kosan,” katanya.
Editor: Intan Refa





