Hari Tani Nasional, PFI Malang Ekspos Jalan Panjang di Balik Pangan

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Di balik hangatnya sepiring nasi, segarnya sayuran, lezatnya olahan ikan, ada tangan-tangan yang bekerja keras menyajikan itu semua. Bertepatan dengan Hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September 2026, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang mempersembahkan cerita visual bertajuk “Tanah, Pangan, dan Harapan” di Gedung Parkir Kayutangan, selama 24-27 September 2026.
Sedikitnya ada 120 foto dalam 24 cerita visual karya 21 pewarta foto PFI Malang yang telah lolos kurasi oleh Fully Syafi dan Idealita Ismanto. Karya-karya tersebut merekam kehidupan di Kota Malang, Kabupaten Malang dan daerah lain di Jawa Timur.
Ketua PFI Malang Darmono mengatakan pameran ini ingin mengajak publik melihat kembali hubungan manusia dengan tanah dan pangan.
Baca juga:
Petani Kota Batu Menolak Punah
“Karena kita berasal dari tanah dan makan dari tanah. Kita sudah seharusnya melihat orang-orang yang berkecimpung di situ,” kata Darmono.
Fotografi menjadi medium untuk merekam dan juga mengingatkan publik mengenai proses panjang di balik pangan. Cerita yang ditampilkan pun beragam. Ada pangan hutan, pertanian padi, sayuran, perikanan, hingga produksi garam.
Salah satu cerita mengangkat pengelolaan sisa makanan di hotel. Makanan yang masih layak tidak langsung dibuang, tetapi diolah lagi untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Harapannya semakin banyak orang yang melihat ini, semakin menikmati. Oh, ternyata pangan itu seperti ini, bagaimana orang berproses membuat pangan,” ujarnya.
Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis. Selain pameran, ada juga rangkaian diskusi mengenai ketahanan pangan pada hari pertama serta diskusi karya pada Sabtu esok (27/9/2026).
Begitu pula dengan Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita yang menilai pameran tersebut membuka sudut pandang yang kerap luput dari perhatian dalam kehidupan sehari-hari. Ia terkesan setelah melihat sejumlah karya yang menurutnya mampu memperlihatkan sisi dramatis dari persoalan tanah dan pangan.
“Jujur saya benar-benar sedih, terharu juga. Foto-fotonya dramatis banget. Saya melihat sudut-sudut pandang lain yang mungkin terlupakan dari kehidupan kita sehari-hari,” pungkas Amithya.
Editor: Intan Refa





