Blues Spirit Sesi 81: Kebusukannya Cetho
Setelah air mata kita mengering oleh bencana nasional berstatus lokal ini, apa kata nurani dan akal waras kita sekarang?
Kurang berapa banyak lagi dari gelondongan kebusukan yang sudah dimuntahkan oleh alam, untuk bisa berbicara mendasar kepada para elite kekuasaan, supaya sungguh-sungguh bertindak menyelesaikan?
Penyelesaian yang mendasar. Bukan seperti sekadar menambal kapal bocor. Karena kapal negeri harus benar-benar bagus untuk berlayar menjemput keadilan dan kemakmuran.
Bukan seperti pembuat proyek, yang bermain tender, bekerja sekenanya, supaya bikin proyek lagi, tender lagi, disunat lagi.
Karena kita butuh pembangunan permanen yang terencana. Untuk menjaga fasilitas dan akses sosial rakyat pembayar pajak.
Coba lihat, sejak reformasi, menuju peradaban modern, manajemen pemerintahan seperti jalan ditempat. Berkutat hanya seperti itu.
Korupsi tetap ada. Maling-maling elite, tetap bekerja. Penghianat bangsa, menyusup. Menggoda kebijakan.
Omon-omon tetap ditebar. Janji-janji tetap dijadikan cara membujuk. Setiap tahun ada musim panas dan selalu saja ada kebakaran.
Kalau musim hujan, selalu saja terjadi banjir. Lagi dan lagi, di mana saja. Tak terkecuali di Malang Raya. Berganti-ganti rezim, tetap juga begitu.
Sampai pada puncaknya pekan lalu, Badai Senyar memicu hujan ekstrem dan banjir di Aceh dan Sumatra Utara. Banjir bandang di Sumatra Barat. Diwarnai erupsi Semeru, bersahutan dengan gunung-gunung lain dan….
Kita saksikan semua di media apa saja.
Ada parade satwa liar kehilangan habitat, orangutan merebut nasi para pengungsi, gajah dan harimau hanyut bersama satwa-satwa lain dan…
Astaghfirullah…pohon-pohon besar usia ratusan tahun, terbukti terpotong rapi oleh gergaji, oleh tangan-tangan penghancur hutan lindung, penyebab banjir dahsyat yang menewaskan hampir 1000 orang pada pekan kedua ini. Menghilangkan 222 orang dan lebih dari 1 juta jiwa mengungsi, 3 juta jiwa terdampak. Beberapa desa, rata diterjang banjir.
Kerugian materiil terus bertambah, entah berapa triliun. Apalagi kerugian immaterial, berupa prospek masa depan dan putusnya rantai ekosistem ekonomi maupun sosial.
Astaghfirullah…..
Kita tercekat, sedih, cemas, lelah, lumpuh, kewalahan….
Marah…..
Muak……
Bumi sudah memuntahkan kebusukan, penghianatan, kerakusan, permufakatan jahat.
Busuk, bersama kamera-kamera pencitraan pejabat. Palsu. Penipu. Maling teriak maling.
Sekarang, segalanya sudah terang benderang. Kebusukan sudah cetho welo-welo. Tinggal mencokok, menindak.
Akankah semuanya ditangani sampai akarnya? Atau kembali seperti tahun-tahun sebelumnya?
Hati-hati, jangan terus memainkan derita rakyat. Karena kekuatan rakyat sungguh dahsyat. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

