Mesin Pirolisis di TPA Supit Urang Berhasil Olah Plastik Jadi BBM

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Dua mesin pirolisis yang dimiliki Pemerintah Kota Malang saat ini, kabarnya sudah mampu memproduksi bahan bakar minyak (BBM) setara solar. Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran menjelaskan mesin pirolisis saat ini beroperasi di dua lokasi yakni TPA Supit Urang dan TPS Mulyorejo.
Tidak hanya mesin pirolisis, di TPA Supit Urang juga terdapat mesin Refuse Derived Fuel (RDF) yang mengubah sampah menjadi briket.
“Dari 200 kilogram sampah plastik kami bisa menghasilkan sekitar 130 liter BBM dengan kualitas di atas Dexlite dan setara Pertadex,” ujar Gamaliel.
Namun Raymond mengatakan produksi belum dapat dilakukan setiap hari lantaran pasokan bahan baku masih terbatas. Maka saat ini proses pengolahan hanya satu hingga dua kali dalam sepekan. Sambil menunggu terkumpulnya sampah plastik jenis low value seperti kantong kresek dan bungkus makanan.
Baca juga:
Mendagri Dijadwalkan Tinjau TPA Supit Urang
BBM hasil pengolahan tersebut juga telah dimanfaatkan untuk sejumlah kendaraan operasional DLH. Seperti kendaraan sky lift maupun alat berat berbahan bakar diesel.
“Fokus utamanya adalah bagaimana sampah plastik tidak lagi menjadi masalah lingkungan. Tetapi bisa dimanfaatkan kembali menjadi energi,” katanya.
Selain pirolisis, DLH juga mengembangkan teknologi RDF yang mengolah sampah menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif industri. Namun, nilai kalor yang dihasilkan saat ini masih belum memenuhi standar. Karena itu, pihaknya berencana melanjutkan pengembangan teknologi tersebut agar hasil RDF dapat diolah menjadi batu bara sintetis pada tahap berikutnya.
Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Anas Muttaqin beserta jajaran menyempatkan diri melihat langsung kinerja mesin ini pada Rabu (15/7/2026). Ia berpendapat keberadaan dua teknologi tersebut merupakan bagian dari skema besar pengelolaan sampah yakni menyelesaikan persoalan sampah sejak dari sumbernya. Bukan sekadar memindahkannya ke tempat pembuangan akhir.
“Hari ini kami bersama Komisi C dan DLH Kota Malang meninjau dua mesin yang diadakan pada 2025, yaitu mesin RDF dan mesin pirolisis. Pirolisis mengubah sampah menjadi BBM setara solar, sementara RDF mengubah sampah menjadi briket,” kata Anas.
Anas menilai pengolahan sampah menjadi energi juga berpotensi dapat menciptakan ekonomi sirkular. BBM hasil pirolisis dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar armada dan alat berat milik DLH yang selama ini mengandalkan solar.
“Kebutuhan BBM di DLH cukup besar karena armada pengangkut sampah dan alat berat semuanya menggunakan solar. Harapannya, hasil pirolisis ini dapat menjadi subsidi silang untuk menekan kebutuhan anggaran BBM,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Kota Malang Arief Wahyudi mendorong pemerintah menghidupkan kembali bank sampah di tingkat RT dan RW. Supaya pasokan sampah plastik yang dibutuhkan mesin pirolisis dapat terpenuhi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
“Pemilahan sampah harus dimulai dari rumah. Banyak sampah plastik yang sebenarnya memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dengan baik. Karena itu peran bank sampah harus dihidupkan kembali,” ujarnya.
Editor: Intan Refa





