
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Husnul Muarif meminta masyarakat waspada risiko heat stroke akibat kenaikan suhu udara imbas fenomena El Nino. Perubahan suhu yang semakin tinggi tidak hanya terjadi di daratan, tetapi juga di wilayah perairan.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko tubuh mengalami gangguan akibat paparan panas berkepanjangan.
“Selama ini heat stroke identik terjadi di negara dengan suhu ekstrem seperti Arab Saudi saat musim haji. Namun saat ini potensinya juga sudah mulai muncul di Indonesia,” kata Husnul, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan heat stroke terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan menstabilkan suhu akibat paparan panas berlebih sekaligus dehidrasi. Meski suhu udara di Indonesia belum menyentuh 40 derajat Celsius, tingkat kelembapan yang tinggi membuat suhu terasa jauh lebih panas.
Oleh karena itu, Husnul menyarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan pada jam-jam rawan. Menurutnya, waktu aman untuk beraktivitas di luar ruangan adalah pagi hari sebelum pukul 10.00 WIB. Setelah itu, suhu udara akan meningkat tajam sehingga risiko paparan panas lebih tinggi.
“Jika memang harus keluar, usahakan melindungi tubuh dengan payung, topi, atau pelindung lain,” ujarnya.
Selain membatasi paparan sinar matahari, jangan lupa memenuhi kecukupan cairan tubuh minimal 2,5-3 liter per hari untuk mencegah heat stroke. Sekalipun tidak merasa haus.
Ia menegaskan, tubuh tetap kehilangan cairan melalui penguapan kulit, pernapasan, hingga proses metabolisme harian. Jika kondisi ini dibiarkan saat tubuh terpapar suhu tinggi, risiko dehidrasi meningkat drastis.
“Banyak orang merasa aman karena cuaca kadang diselingi hujan. Padahal kelembapan yang tinggi justru tetap memicu dehidrasi,” katanya.
Ia mengingatkan heat stroke bukan sekadar kondisi tubuh lemas akibat kepanasan. Dalam kondisi tertentu, dehidrasi berat dapat memaksa jantung bekerja lebih keras sehingga memicu gangguan pada pembuluh darah.
“Ini yang berbahaya. Heat stroke bisa menjadi pemicu stroke, terutama pada orang dengan tekanan darah tinggi, penyakit gula darah, atau yang memiliki riwayat stroke,” tuturnya.
Karena itu, alangkah baiknya masyarakat melakukan penilaian mandiri pada kesehatannya sebelum memutuskan beraktivitas di luar ruangan. Pencegahan menjadi langkah paling efektif agar masyarakat terhindar dari dampak cuaca panas ekstrem.
Editor: Intan Refa




