UNIRA Malang Luluskan 592 Wisudawan, Siap Berkontribusi untuk Masyarakat

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Sebanyak 592 mahasiswa Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang telah menuntaskan pendidikan tinggi dan meraih gelar akademik sarjana maupun pascasarjana. Mereka menjalani wisuda periode ke-10 dengan khidmat pada Sabtu (17/10/2026) di Hotel Aria Gajayana, lengkap dengan toga dan disaksikan oleh anggota keluarga.
Para wisudawan tersebut terdiri dari 182 wisudawan Fakultas Ilmu Keislaman (FIK), 107 wisudawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), 74 wisudawan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 84 wisudawan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), 65 wisudawan Fakultas Sains dan Teknologi dan 80 wisudawan Pascasarjana Pendidikan Agama Islam.
Rektor UNIRA Malang H Imron Rosyadi Hamid SE MSi PhD mengaku bangga atas jerih payah dan ketekunan para mahasiswa dalam menyelesaikan studi. Gelar akademik yang tersemat di belakang nama tersebut, merupakan bentuk pengakuan kompetensi. Serta tanggungjawab moral untuk memberikan kontribusi terbaik pada masyarakat.
Baca juga:
Rektor Unira, Sosok Arema Dobel yang Lekat dengan Dunia Santri
“Ada satu hal yang ingin kami titipkan pada saudara sebelum meninggalkan kampus ini. Kemanapun perjalanan saudara setelah hari ini, ingatlah bahwa saudara menjadi bagian dari UNIRA Malang. Di manapun saudara berkiprah, syiarkanlah UNIRA Malang kepada seluruh lapisan masyarakat. Bukan semata-mata dengan kata-kata, tetapi dengan karya, pengabdian, integritas, dan manfaat yang saudara berikan. Biarkan masyarakat mengenal UNIRA melalui kiprah para alumninya,” pesan Imron dalam sambutannya.
Terlebih, situasi geopolitik dan sosial ekonomi yang tidak menentu di Indonesia belakangan ini menjadi tantangan besar bagi lulusan baru yang akan memulai hidupnya. Imron mengatakan ketika ekonomi terdampak, maka ini akan berimbas pada bidang-bidang yang lain termasuk pendidikan.
“Kita melihat mereka yang telah selesai studinya di UNIRA ini setidaknya mampu melewati situasi yang sulit ini dan di tengah tantangan yang begitu menantang. Saya tidak mengatakan ini satu hambatan tapi tantangan yang memang harus dijawab dengan kegigihan, kesabaran, termasuk optimisme,” lanjutnya.
Oleh karena itu, Imron memberikan wejangan kepada para lulusan agar apapun kondisinya, tetaplah berpegang pada dua hal. Pertama, jangan kehilangan optimisme, sesulit apapun. Yakinlah pasti akan ada jalan keluar.
“Kedua, letakkan segala keputusan dengan doa. Termasuk untuk melandasi ikhtiar fisik pada Allah Subhanahu wa taala. Karena itu jawaban. Kita tahu misalnya, saat ada mahasiswa yang mungkin karena frustrasi, lalu melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan oleh agama. Kita harapkan lulusan UNIRA ini selain mereka mendapatkan ilmu dan keterampilan, mereka juga mendapatkan dasar-dasar nilai-nilai agama yang baik,” tutupnya.
Tantangan besar pendidikan
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prayogi Restia Saputra MM PhD berbagi pengalamannya dalam kesempatan orasi ilmiah kepada para wisudawan. Secara garis besar, lulusan perguruan tinggi harus adaptif dan kreatif. Pengalamannya saat di Finlandia, ia melihat refleksi menarik tentang hubungan antara teknologi dan proses belajar.
“Di tengah dunia yang berlomba-lomba mendigitalisasikan pendidikan, kita juga perlu bertanya: apakah semakin banyak perangkat digital otomatis membuat pembelajaran semakin baik? Kita sering menganggap bahwa kelas yang dilengkapi komputer, anak-anak yang belajar pakai tablet, layar interaktif, dan berbagai aplikasi digital pasti lebih maju. Padahal teknologi hanya alat,” kata Prayogi.
Menurutnya, nilai pendidikan tergantung pada bagaimana alat tersebut digunakan untuk membantu manusia memahami, mempertanyakan, menciptakan, dan memecahkan masalah. Digitalisasi bukan sekadar memindahkan pemindahan materi dari papan tulis ke layar atau dari buku cetak ke aplikasi.
Baca juga:
Pekan Riset UNIRA Malang, Dorong Inovasi Berdampak untuk Masyarakat
“Jika mahasiswa atau peserta didik atau anak-anak hanya memindahkan jawaban dari internet ke lembar tugas, kita mungkin telah menggunakan teknologi. Tetapi belum tentu mengembangkan kemampuan berpikir yang kritis. Sebaliknya, ketika anak-anak mengamati fenomena, mengajukan pertanyaan, menguji dugaan, membandingkan bukti dan mempertanyakan, mempertahankan pendapatnya dalam proses belajar-mengajar menjadi bermakna,” lanjutnya.
Artinya, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang paling banyak menggunakan teknologi. Melainkan pendidikan yang mampu memilih teknologi secara tepat untuk mencapai tujuan belajar. Pendidikan harus memastikan bahwa manusia tetap memiliki kemampuan untuk berpikir secara mandiri. Inilah tantangan besar pendidikan pada era kecerdasan buatan atau di era AI ini.
Pada momen wisuda ini, Prayogi turut menekankan bahwa proses belajar tidak akan berhenti setelah menerima ijazah. Akan tetapi menjadi bagian perjalanan seumur hidup. Oleh karena itu, ia berpesan agar para wisudawan tetap menjadi pribadi yang terbuka pada pengetahuan baru, berani mengakui kekurangan dan terus memperbaiki diri.
Lalu jangan takut berpikir berbeda, karena dunia juga membutuhkan orang-orang yang memiliki sudut pandang baru. Serta gunakan ilmu untuk memperbaiki kehidupan sesama dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (srv)





