Solusi Kekeringan Menahun di Kabupaten Malang

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang Purwoto mengatakan terdapat 13 desa di 6 kecamatan di Malang Selatan mengalami kekeringan selama musim kemarau. Hal ini diperparah dengan fenomena El Nino yang memperpanjang masa kemarau hingga Desember 2026.
Kata Purwoto, jumlah daerah yang terdampak kekeringan telah berkurang dari tahun lalu. Kekeringan di Kecamatan Jabung dan Singosari telah teratasi seiring dengan masuknya jaringan pipa PDAM Tirta Kanjuruhan. Sementara di Kecamatan Sumberpucung yang semula tidak pernah terdampak, kini mengalami kekeringan akibat pengeringan Sungai Molek untuk perbaikan saluran. Sehingga menyebabkan sumur resapan warga mati.
“Sebetulnya nanti ke depan untuk 2027/2028 mudah-mudahan semuanya sudah bisa tercover untuk kebutuhan air bersih
dari Tirta Kanjuruhan, karena sekarang sudah proses berjalan. Wilayah Sumbermanjing Wetan itu sebetulnya sudah semuanya tercover untuk kebutuhan air minum yang tahun lalu itu banyak yang kekeringan. Sementara untuk wilayah agak barat sekarang PAM-nya sudah sampai di Desa Pagak tepatnya di SMA Taruna. Dan 2027-2028 itu akan dilanjutkan nanti di wilayah Gedangan, Donomulyo, dan Kalipare,” papar Purwoto.
Simak di sini:
Ia menjelaskan kekeringan menahun yang terjadi di Malang Selatan selain faktor cuaca dan fenomena El Nino, juga karena faktor sumber air yang tidak terlalu banyak di sana. Kalaupun ada sumber, biasanya debit airnya tidak terlalu besar. Maka, solusi sementara dari Pemkab Malang menyalurkan atau dropping air ke wilayah kekeringan.
“Kita mengerahkan sembilan tangki air yang kita distribusikan ke 13 desa setiap 2 hari sekali. Sampai saat ini tidak ada masalah. Sudah tercukupi untuk kebutuhan air bersih untuk air minum. Sedangkan untuk cuci dan mandi mereka masih bisa memanfaatkan kali atau sungai yang ada di wilayah sana,” lanjutnya.
Di sisi lain, Kabid Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Alam Dinas PU SDA Kabupaten Malang Meftahol Fauzi menyebut meski kemarau, ia belum menerima laporan kekeringan di persawahan. Kabupaten Malang memiliki 717 daerah irigasi (DI) seluas 35.346 hektar.
Baca juga:
Sumber Mengering, Kota Batu Terancam Krisis Air?
“Karena kita menganut sistem perencanaan T -1. Jadi untuk mengelola daerah irigasi setiap tahun kita membuat rencana tata tanam global yang dimulai bulan Juni. Jadi tahun 2025 kita buat yang sekarang ini. Sekarang sudah mulai Juni selesai bulan Oktober maksimum November untuk acuan tanam di daerah irigasi sawah tahun 2027,” kata Fauzi.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Hidrologi dan Konservasi SDA Universitas Brawijaya Prof Dr Eng Donny Harisuseno MT melihat faktor kekeringan tahunan di Kabupaten ini salah satunya adalah ada kendala pada sistem yang mampu mendistribusikan air bersih ke rumah-rumah warga secara merata. Warga masih bergantung pada HIPPAM yang rentang kering saat kemarau.
“Selain kendala itu (distribusi), yang saya pelajari bahwa daerah Malang Selatan itu kan secara geologi, tanahnya lebih ke kapur yang sifatnya berongga-rongga. Sebenarnya ini ada peluang untuk menyimpan air. Tapi bisa jadi, air itu kan mengalir ke bawah. Sehingga, di Sumbermanjing Selatan itu secara geologi memang tidak mampu untuk menyimpan air, hanya mengalirkan ketika hujan,” jelasnya.
Menurutnya, untuk menangani kekeringan ini maka yang perlu diketahui adalah kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS). Lalu jika memang kondisi geologinya tidak mampu menampung air, maka masyarakat harus benar-benar memaksimalkan musim hujan. Caranya dengan menyediakan media-media penampung air seperti embung atau waduk kecil. Dengan harapan warga setempat memiliki kemandirian memasok air bersih sendiri tanpa bergantung dengan pemerintah. (WL)





