Refleksi Hari Jadi Kota Batu, Nurochman Ziarahi Makam Mbah Batu

CITY GUIDE FM, KOTA BATU — Jelang Hari Jadi Kota Batu ke-25 yang jatuh pada 17 Oktober mendatang, Wali Kota Batu Nurochman berziarah ke makam Mbah Batu di Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, pada Rabu (14/10/2026). Dalam ziarah tersebut, ia bersama rombongan melakukan tabur bunga dan mengirim doa kepada para leluhur.
Ziarah ini menjadi momentum untuk mengenang tokoh yang selama ini dikenal masyarakat sebagai salah satu perintis atau bedah kerawang wilayah Batu. Nurochman mengatakan, penghormatan kepada Mbah Batu tidak cukup hanya melalui ziarah.
“Cita-cita beliau yang belum tersampaikan barangkali itu kewajiban kami untuk kemudian bisa menindaklanjuti kebaikan-kebaikan itu,” ujarnya.
Baca juga:
Terinspirasi Bob Dylan, Pameran Ini Soroti Perubahan Wajah Kota Batu
Ia menegaskan nilai-nilai warisan para pendahulu perlu menjadi pijakan dalam melanjutkan pembangunan Kota Batu. Karena itu, peringatan hari jadi daerah menjadi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan kota dan tanggung jawab generasi penerus terhadap warisan sejarahnya.
Sosok Mbah Batu, dalam tradisi lisan masyarakat setempat dikenal sebagai Mbah Wastu atau Mbah Tu. Ia juga dikaitkan dengan nama Abu Ghonaim dan Kiai Gubug Angin. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, kedua tokoh tersebut merupakan ulama yang datang ke wilayah Batu setelah mengikuti perjuangan Pangeran Diponegoro.
Masyarakat percaya, Mbah Wastu memiliki peran dalam penyebaran agama Islam dan pembukaan permukiman di kaki Gunung Panderman. Makamnya di Dusun Banaran sering menjadi tempat ziarah masyarakat, terutama menjelang peringatan Hari Jadi Kota Batu.
Baca juga:
Kekayaan Alam dan Sejarah Desa Punten, Kota Batu
Di sisi lain, Sejarawan Dwi Cahyono memberikan penjelasan berdasarkan sumber sejarah tertulis dan kajian arkeologi. Menurut kajiannya, kawasan Batu telah berkembang sejak masa sebelum Islam, termasuk pada periode Hindu-Buddha.
Karena itu menurutnya, Mbah Wastu tidak tepat jika disebut sebagai orang pertama yang membuka kawasan Batu dalam pengertian bahwa wilayah tersebut sebelumnya belum berpenghuni. Salah satu petunjuk pentingnya adalah keberadaan nama-nama desa kuno.
Nama Batwan, misalnya, tercatat dalam Prasasti Kubu-kubu bertarikh 905 Masehi. Dwi menafsirkan nama Batwan kemungkinan berkaitan dengan bentuk Batu-an. Sementara itu, Prasasti Sangguran bertarikh 928 Masehi menjadi bukti penting perkembangan masyarakat Batu pada masa Mataram Kuno.
Prasasti tersebut menyebutkan status Desa Sangguran sebagai wilayah sima atau perdikan, yakni kawasan dengan ketentuan tersendiri terkait kewajiban pajak. Prasasti itu juga menyebut bangunan suci Mananjung yang berkaitan dengan kepentingan kelompok perajin besi.
Editor: Intan Refa





