News

Melestarikan Bumiaji pada Wujud Dusun ASRI

Dosen Arsitektur ITN Malang – Ir. Budi Fathony, MTA

Koentjaraningrat (1983), “memayu-hayuning bhawana” Masyarakat Jawa merasa berkewajiban untuk selalu berupaya menjaga dan memperindah lingkungannya, baik fisik maupun spiritualnya, baik yang menyangkut pada adat, tata cara, cita-cita, ataupun nilai-nilai budaya lainnya.

Pembangunan pada hakekatnya merupakan serangkaian upaya yang terarah untuk meningkatkan nilai tambah dari setiap potensi yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini pembangunan adalah tanggungjawab masyarakat sendiri, baik secara peorangan maupun bersama-sama. Pemerintah hanya mengatur, membina dan membantu serta menciptakan iklim yang baik agar masyarakat dapat memenuhi sendiri kebutuhannya. Dengan demikian masyarakat bukan semata-mata sebagai obyek pembangunan, tetapi merupakan subyek yang berperan aktif dalam pembangunan.

Peranan masyarakat akan dapat berlangsung dengan cara yang jauh lebih baik bila sejak awal sudah terlibat didalam perencanaan pembangunan bersama-sama dengan akademis, agar hasilnya sesuai dengan aspirasi, kebutuhan kondisi sosial, kemampuan ekonomi dan budaya masyarakat yang bersangkutan. Gerakan Intensifikasi Rehabilitasi Alam Bumiaji atau dengan istilah GIRAB-nya Bapak Bambang Parianom Camat Bumiaji menjadi segudang potensi yang mampu dikembangkan tidak sekedar SDA namun saatnya SDM ikut serta turut menyambut semangat tersebut diatas.

Hal ini tidak berlebihan jika didasarkan atas kesadaran terhadap : a). Keprihatinan kondisi lingkungan di kota Batu (hutan Gundul -/+ 5.900 Ha jumlah sumber air dan debetnya turun 50% lebih, daerah rawan longsor semakin meluas, tingkat kesuburan tanah menurun); b). Kondisi kritis wilayah Bumiaji, kerusakan sebagian kawasan hutan, hulu sub DAS Sumber Brantas, daerah pertanian memerlukan percepatan Rehabilitasi untuk mempertahankan pelestarian vitalitas fungsinya.

Dengan tujuan GIRAB sebagai semboyan masyarakat Bumiaji akan : a). Mereaktualisasi Potensi Lokal, Bumiaji tidak saja membawa konotasi tempat, tetapi juga untuk mempertahankan keunggulan daya dukung SDA secara berkelanjutan, membangun Bumiaji berwawasan lingkungan, pertanian dan ke-Pariwisataan (ecotourism); b). Merevatilisasi kesadaran sosial, semangat gotong royong (territorial dan fungsional) untuk Mewujudkan kebersamaan dan sinergitas multipihak (keterpaduan partisipatif) untuk pelestarian alam; c). Menempatkan GIRAB menjadi agenda lingkungan secara berkelanjutan di Desa, Dusun, RT,RW, Sekolah, Tempat Ibadah dan berbagai komunitas sehingga terbangun suasana kompetitif (sumber GIRAB, Bumiaji).

Perguruan tinggi dengan perangkatnya dapat melakukan penerapan secara langsung keterlibatan mahasiswa turun kelapangan dapat dinilai sebagai praktek langsung guna mewujudkan pemikiran-pemikiran yang dikaji sebagai komunikasi secara langsung sesuai dengan disiplinnya.

Hasilnya akan menjadi karya yang monumental berdasarkan kebutuhan masyarakat, nilai akhirnya tidak sekedar mencapai nilai akademis yang tetapi manfaatnya.

Menjadi raja sebenarnya kita sudah mampu walaupun di kerajaan sekecil apapun daripada menjadi rakyat di kerjaan besar, dan mewah tetapi tidak dapat menikmati dan melakukan apa-apa. Memang sesuatu yang baik katanya bila kita masih punya harapan, tetapi yang lebih konyol lagi jika kita selalu menggantungkan diri kepada harapan yang kosong.

Kerjasama yang terpadu ini sebenarnya cukup sederhana dan mampu kita lakukan selama dapat saling menyadari dan memahami masing-masing peran yang diembannya. Keterbukaan dalam proses yang mencoba mengakomodasi sebanyak mungkin pandangan dan pendapat masyarakat banyak, meskipun akan dapat memperlama proses dibanding sebelumnya, akan mempunyai arti yang sangat penting untuk mendorong peranan masyarakat.

Penyempurnaan mekanisme terus menerus dilakukan agar dapat secara efektif menjaring informasi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, sehingga ada rasa memiliki hasil pembangunan yang tumbuh berkembang dalam masyarakat itu sendiri.

Dengan mengenali berbagai permasalahan yang ada dalam pelaksanaan pembangunan, maka peran serta dunia usaha dan perguruan tinggi ikut serta peduli berdasarkan potensi yang dimilikinya. Masyarakat bertanggung jawab terhadap hasil pembangunan yang merupakan karya bersama untuk merawat dan memanfaatkan secara berkelanjutan. Keikutsertaan ini meliputi seluruh fungsi menejemen pola pembangunan partisipatif dengan melalui tahap :

a) Pengembangan pendekatan perencanaan dari atas kebawah yang dipadukan dengan pendekatan dari bawah keatas diharapkan menjadi sarana yang lebih komunikatif lagi yang selama ini terasa terputus dan berjalan sendiri-sendiri, sehingga permasalahan yang muncul di masyarakat tidak cepat terselesaikan dengan baik karena saling menyalahkan.

b) Komprehensipnya penetapan perencanaan pembangunan secara berkelanjutan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun hasil pemikiran perguruan tinggi sehingga dunia usaha terlibat di dalamnya akan merasakan terlindungi oleh hukum peraturan yang telah ditetapkan.

c) Pengembangan sistem insentif dan disintensif yang diaplikasikan melalui perangkat peraturan yang ada diharapkan menjadi sarana efektif dalam perencanaan oleh seluruh pelaku pembangunan.

Sistem subsidi dapat berakibat kurang berkembangnya potensi masyarakat serta membelenggu perkembangan ekonomi itu sendiri. Terbatasnya sumber dana pemerintah berangsur tidak memungkinkan lagi untuk menerapkan kebijaksanaan subsidi secara besar-besaran.

Forum Green Design menjadi komunikasi nyata tidak sekedar wacana tetapi bagian dari solusi bersama masyarakat karena kesepakatan Bumiaji menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan ide dan konsep Desa Asri dari Bapak Bambang Parianom, SH, selaku Camat Bumiaji, nampaknya sejalan dengan komitmen Hasil Green Design Seminar 26-29 Juli 2007 yang diadakan oleh Majalah Griya ASRI.

Pemahaman terhadap nilai-nilai, norma-norma yang terdapat di lingkungan masyarakat merupakan hal yang perlu dilakukan oleh perancang sebagai dasar pijakan dalam mencipta karya-karyanya, dengan demikian hasil yang diwujudkan akan merupakan arsitektur yang akrab dengan lingkungannya, mudah direcna makna serta pesan yang disampaikan. (adm)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

Radio


x
%d blogger menyukai ini: