Desa Giripurno: Gerbang Timur Kota Batu yang Teguh Jaga Tradisi

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji terletak di jalur alternatif Kota Batu dari arah Kota Malang via Karangploso. Secara geografis, Giripurno menjadi daerah pertama yang menyambut wisatawan saat memasuki wilayah Kota Batu dari sisi timur.
Penamaan Desa Giripurno memiliki makna filosofis yang mendalam. Purno bermakna pungkasan atau akhir, sedangkan Giri bermakna gunung. Artinya desa yang berada tepat di bagian akhir kaki Gunung Arjuno.
Kepala Desa Giripurno Suntoro bercerita bahwa sebelum Kota Batu terbentuk pada tahun 2001, daerah ini merupakan bagian dari Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dulunya, daerah ini bernama Lejar atau Lajar, sebuah nama yang hingga kini masih sering digunakan oleh warga setempat.
“Berubah sekitar tahun 1960-1961 dari Lejar ke Giripurno. Nama Lejar sendiri menurut penuturan nenek moyang berasal dari banyaknya tanaman ubi yang dulu tersebar di wilayah ini,” jelas Suntoro.
Baca juga:
Desa Torongrejo: Jejak Sejarah dan Alam di Gerbang Kota Batu
Berbeda dengan desa lain di Kota Batu yang gencar mengedepankan sektor pariwisata buatan, Giripurno tetap teguh sebagai sentra pertanian. Lahan tegalan dan sawah milik warga mendominasi desa seluas 14 km persegi ini.

Tahun ini, Pemerintah Kota Batu bahkan mulai mengembangkan kawasan Smart and Integrated Farming di Giripurno sebagai langkah modernisasi pertanian dan peremajaan petani.
“Giripurno tidak mengedepankan wisata maupun UMKM. Di sini adalah pusatnya sayur-mayur. Ikon desa kami adalah pemasok sayur-mayur yang menyuplai kebutuhan kabupaten dan kota di seluruh wilayah Jawa Timur,” tambahnya.
Kata Suntoro, Desa Giripurno cenderung sebagai Kampung Budaya. Sampai sekarang, berbagai ritual adat rutin diselenggarakan, seperti Selamatan Desa pada bulan Juli yang diisi dengan kegiatan Sambang Petren (ziarah makam leluhur). Lalu penampilan seni Langen Beksan, hingga tradisi Jenang Suro setiap 10 Muharram.
Meski tidak fokus pada wisata komersial, Suntoro mengakui ada dampak positif dari kegiatan budaya tersebut. Banyak wisatawan yang tertarik melihat dari dekat berbagai budaya di sini, yang secara otomatis ikut meningkatkan pendapatan warga.
“Karena saya mengedepankan desa budaya, otomatis sektor lain seperti UMKM dan wisata akan mengikuti di belakangnya,” tuturnya.
Oleh karena itu, Pemerintah Desa Giripurno membentuk lembaga adat untuk membentengi kebudayaan. Ini berawal dari rasa keprihatinan Suntoro dengan mulai lunturnya tata krama di kalangan anak muda saat ini.
“Kami ingin menghidupkan kembali tata krama dan tindak-tanduk yang hampir punah. Sekarang anak kecil terkadang berbicara Ngoko (bahasa kasar) kepada orang tuanya. Inilah yang akan kita tumbuhkan kembali, budaya lokal Giripurno,” tegasnya.
Langkah pelestarian ini terlihat melalui berbagai dokumentasi sejarah dan tradisi desa secara tertulis. Termasuk dalam waktu dekat menyelesaikan sebuah buku berjudul “Dudah Lelakune Simbah”. Buku tersebut harapannya bisa menjadi kompas bagi generasi mendatang untuk mengenal identitasnya.
“Melalui buku ini, kami menggali kembali budaya unggah-ungguh. Serta nilai-nilai perbuatan yang pernah dilaksanakan oleh para leluhur untuk diwariskan kepada anak cucu,” pungkas Suntoro. (adv)
Editor: Intan Refa




