Idjen Talk

Belajar dari Coban Kaca, Bagaimana Jamin Keselamatan Pengunjung?

Idjen Talk edisi 31 Oktober 2026, "Belajar dari Coban Kaca, Bagaimana Jamin Keselamatan Pengunjung?"
Idjen Talk edisi 31 Oktober 2026, “Belajar dari Coban Kaca, Bagaimana Jamin Keselamatan Pengunjung?”

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Pada 25 Oktober lalu, seorang pesepeda asal Singosari meninggal usai terjatuh ke jurang sedalam 100 meter di area wisata Coban Kaca. Ia salah menginjak tanah yang ternyata adalah semak-semak saat melintasi jalur pintas. Rescuer Unit Siaga Basarnas Malang Raya Putra Rostya mengatakan proses evakuasi korban menghadapi tantangan berat.

Karena medan Coban Kaca cukup terjal, berbatu dan harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk bisa menjangkau korban. Ia dan tim sempat mempersiapkan evakuasi dengan teknik high angle rescue.

“Kami melaksanakan rencana high angle rescue itu dengan harapan korban, mohon maaf, masih dalam keadaan hidup. Yang kedua mungkin tidak ada jalur menuju akses ke titik korban melalui jalan setapak. Nah, itu kita akan menggunakan high angle rescue. Tapi dengan adanya jalan setapak yang ada di lereng gunung tersebut, dan mohon maaf keadaan sudah meninggal dunia waktu itu, maka kami putuskan dengan menggunakan rescue manual saja, menggunakan tandu,” kata Putra.

Simak di sini:

Berkaca dari kejadian ini, menurutnya pengelola wisata alam ataupun buatan harus memiliki tim rescue sendiri. Agar penanganan pertama bisa ditangani oleh tim penyelamat milik pengelola wisata terlebih dahulu. Sembari menunggu petugas penyelamat lain tiba. Dari aspek keselamatan, Dosen K3 Poltekkes Kemenkes Malang Dr Ganif Djuwadi SPd SST MKes mengatakan berdasarkan karakteristik wisata Coban Kaca, sumber bahayanya itu adalah pada jalurnya. Utamanya, jalur pintas.

“Dari aspek jalur tracking-nya itu kan sempit, curam, bebatuan dan ada vegetasi. Itu yang harus sebetulnya dikaji apa yang harus dilakukan? Kemudian jurang kalau itu dikelola untuk wisata maka sebetulnya harus ada pagar atau handrail, pegangan,”kata Ganif.

Selain itu, ia menyarankan agar pengelola menutup jalur masuk yang berbahaya atau jalur tikus dan mengalihkannya ke jalur yang aman. Yang tak kalah pentingnya adalah memasang rambu peringatan seperti awas jurang, jalur licin, rambu larangan, petunjuk evakuasi, nomor emergency dan lain-lain.

Baca juga:

Pesepeda Asal Singosari Tewas Terperosok di Jurang Coban Kaca Kota Batu

Pengawas Kepariwisataan Dinas Pariwisata Kota Batu Andik Bukhori mengatakan pihaknya rutin melakukan monitoring dan evaluasi (monev) sarana prasarana menjelang musim liburan.

“Kami berharap bagi wisatawan atau pengunjung yang senang ke wisata alam paling tidak harus tahu kontur medan maupun kondisi. Sekarang kan banyak di media-media sosial tentang wisata alam. Maka harus cari tahu apa yang perlu dipersiapkan, apa yang boleh, apa yang tidak boleh. Jadi, tidak asal datang. Istilahnya kalau sekarang tren FOMO. Ikut-ikutan, tapi tidak ada bekal atau persiapan,” kata Andik.

Pihaknya mengaku telah berkomunikasi dengan pengelola Coban Kaca dan menutup akses selama satu minggu untuk melakukan evaluasi. Setidaknya, soal keamanan jalur, rambu hingga papan penunjuk arah benar-benar dijalankan sebelum dibuka kembali.

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Visual Radio

x