Atraksi Bantengan dan Silat Pemuda Pujon, Tarik Perhatian Mahasiswa Asing

CITY GUIDE FM, KABUPATEN MALANG – Ada pemandangan menarik dalam pertunjukan rutin bantengan dan Pencak Silat Sidodadi di Desa Ngeroto, Kecamatan Pujon, Minggu (4/5/2026). Kegiatan budaya tersebut didominasi oleh anak-anak muda, mulai dari pemain musik, penampil hingga panitia yang mayoritas berusia belasan hingga awal 20-an tahun.
Belasan pemuda itu berpakaian serba hitam menampilkan gerakan kuda-kuda khas bela diri pencak silat. Dengan iringan alunan gamelan dan tabuhan gendang, mereka menampilkan kesenian Pencak Silat Sidodadi di punden Candi Mojorejo, Desa Ngeroto, Kecamatan Pujon.
Suasana semakin terasa kental dengan aroma menyan yang menguar di udara, berpadu dengan suara gamelan yang semakin menghentak. Satu per satu pesilat muda maju ke tengah arena, memperagakan kemampuan bertarung di hadapan para tetua yang duduk di pintu punden. Gerakan mereka tegas, ritmis, menyatu dengan irama musik tradisional yang mengalun.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara yang telah berlangsung sejak Jumat sebelumnya. Untuk hari Minggu, acara dimulai sejak siang hari dan dijadwalkan berakhir menjelang Magrib.
Pada sesi akhir, salah satu tetua turut tampil. Ia adalah Suwartono, generasi ketiga dalam tradisi Pencak Silat Sidodadi di Desa Ngeroto. Mengenakan pakaian hitam dengan sabuk kuning, gerakannya tampak mantap mencerminkan kekuatan sekaligus nilai budaya turun-temurun.
“Setiap Minggu Kliwon, rekan-rekan mengadakan kegiatan dan berencana membuat catatan dalam bentuk buku terkait agenda budaya ini,” kata Suwartono yang juga Pengurus Perguruan Pencak Silat Sidodadi.
Suwartono menambahkan tradisi ini telah ada sejak tahun 1999. Sedangkan, Perguruan Pencak Silat Sidodadi berdiri jauh lebih lama yaitu tahun 1958, 13 tahun setelah kemerdekaan Indonesia.
Selain pertunjukan pencak silat, acara juga menampilkan bantengan dari kelompok Ngeroto Jiwo. Pergantian sesi dari pencak silat ke bantengan ditandai dengan dentuman musik yang lebih keras.
Warga yang hadir tampak mengelilingi punden. Sementara suara pecut yang meledak sesekali menggema. Sosok macan kuning dan banteng pun mulai mendominasi arena, menambah semarak pertunjukan budaya di atas tanah lapang.
Menarik perhatian mahasiswa asing asal Korea Selatan
Dominasi anak muda ini menarik perhatian salah satu pengunjung asal Korea Selatan, Kim Dong Bin. Pemuda asal Seoul tersebut mengaku sengaja datang untuk menyaksikan langsung kesenian tradisional di Indonesia.
“Spesial buat saya. Sangat berbeda dengan Korea,” ujar Kim dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata.
Mahasiswa yang tengah menempuh studi Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini kagum dengan tingginya antusiasme generasi muda dalam kegiatan budaya tersebut. Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan yang ia lihat di negaranya.
“Menurut saya di sini masih menjaga budaya. Tapi di Korea sekarang jarang, tidak banyak tentang budaya. Jadi di sini bagus, generasi mudanya,” jelasnya.
Ia juga menilai gerakan dalam pencak silat memiliki kemiripan dengan taekwondo, seni bela diri asal Korea. Meski demikian, ia melihat gerakan dalam pencak silat terlihat lebih kompleks.
“Kelihatannya sulit, tapi bagus. Mirip dengan taekwondo,” tambahnya.
Suwartono menyebutkan sekitar 40 pemuda mengikuti pertunjukan sekaligus ajang latihan pada sore itu. Ia menjelaskan jumlah tersebut bisa lebih banyak jika seluruh anggota hadir.
“Sekarang sekitar 40 orang, tapi kalau kumpul lengkap biasanya bisa lebih dari 100. Hari seperti ini banyak yang tidak hadir karena bekerja,” ungkapnya.
Sebagai generasi ketiga dalam perguruan tersebut, Suwartono menambahkan bahwa banyak peserta berasal dari desa sekitar. Ia menegaskan bahwa keterbukaan menjadi salah satu kunci banyaknya anggota muda yang bergabung.
“Anggota kami tidak hanya dari satu desa. Siapa saja yang ingin bergabung, tetap kami terima,” jelasnya.
Kehadiran generasi muda dalam jumlah besar ini menjadi tanda bahwa tradisi bantengan dan pencak silat di Desa Ngeroto masih terus hidup dan diwariskan lintas generasi.
Editor: Intan Refa




