Api Permukaan Padam, Estimasi Pemadaman Hidden Fire TPA Supit Urang Tuntas 10 Hari

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Memasuki hari ke-17 pemadaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, api di permukaan timbunan sampah telah padam. Namun, bara api masih ada di bawah permukaan dengan kedalaman sekitar dua meter.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Malang Prayitno mengatakan hasil pemantauan terakhir menunjukkan sebagian besar area sudah terbebas dari kobaran api. Ia memperkirakan seluruh proses pemadaman akan terselesaikan dalam waktu sekitar 10 hari, terhitung sejak hari Rabu (4/11/2026).
“Secara umum api di permukaan sudah habis. Sekarang hanya tinggal asap yang sudah sangat tipis. Dari hasil pengecekan di lapangan, hanya beberapa titik yang masih tersisa,” kata Prayitno, Kamis (5/11/2026).
Baca juga:
Separuh Area TPA Supit Urang Berhasil Dipadamkan
Kedalaman bara yang tersembunyi di bawah permukaan dengan kedalaman satu hingga dua meter, tidak cukup hanya mengandalkan air hujan untuk memadamkannya. Petugas harus membongkar timbunan sampah secara manual, kemudian menyemprotkan air bertekanan minimal 5 bar selama 20-30 menit pada setiap titik hingga bara benar-benar padam.
Penyisiran kali ini difokuskan di sisi timur, terutama wilayah utara dan selatan. Adapun area sisi barat hingga sekitar 600 meter ke arah timur dilaporkan telah bebas dari titik api.
Menurut Prayitno, potensi perambatan api relatif kecil karena kobaran di permukaan sudah tidak ditemukan. Petugas juga melakukan pembasahan secara rutin setiap sore hingga malam untuk mencegah bara kembali menyala.
Di sisi lain, hujan deras yang membantu mendinginkan permukaan sampah juga meningkatkan risiko longsoran timbunan sampah. Karena itu, ia mengimbau masyarakat, terutama pemulung yang masih beraktivitas di kawasan TPA, untuk tidak memasuki area rawan.
“Secara teknis, longsoran-longsoran itu berpotensi terjadi. Karena itu, menjadi kewenangan teman-teman UPT untuk melarang orang-orang yang mengais sisa sampah di area yang berpotensi membahayakan diri mereka,” pungkas Prayitno.
Editor: Intan Refa





