Idjen Talk

Sungai Brantas Tercemar, Siapa Bertanggungjawab?

Idjen Talk edisi 8 Oktober 2026, "Sungai Brantas Tercemar, Siapa Bertanggungjawab?"
Idjen Talk edisi 8 Oktober 2026, “Sungai Brantas Tercemar, Siapa Bertanggungjawab?”

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Pekan lalu, 27 September 2026, Sungai Brantas yang melintasi Kelurahan Mergosono dilaporkan tercemar, di mana airnya mendadak berubah menjadi ungu gelap. Selang satu jam kemudian, warna air berubah kembali normal. Plt Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang mengatakan telah melakukan survei selama dua hari usai menerima laporan.

“Berdasarkan laporan verifikasi lapangan oleh tim Labda Kota Malang, ada dua indikator perubahan warna air sungai menjadi ungu. Kemungkinan disebabkan oleh pencemaran limbah industri, bisa berupa zat pewarna tekstil atau yang lainnya atau aktivitas mikroorganisme spesifik seperti bakteri belerang ungu, purple sulfur bakteria,” terang Raymond.

Jenis industri yang menggunakan zat pewarna itu kemungkinan berasal dari industri tekstil, pabrik pewarna, penyamakan kulit atau sejenisnya. Pihaknya telah mengambil sampel air dan sedang dalam proses uji laboratorium yang memakan waktu kurang lebih 14 hari. Untuk memastikan kandungan polutan dan melacak sumber pencemarnya.

Simak di sini:

Sementara itu, Vice President Regional I Perum Jasa Tirta I Agung Nugroho mengatakan timnya turut melakukan peninjauan bersama DLH Kota Malang. Ia menduga perubahan warna air ini akibat limbah pewarna zat cair atau zat kimia dalam konsentrasi tinggi. Namun, kepastiannya menunggu hasil laboratorium keluar.

Agung mengatakan pihaknya rutin melakukan pemantauan kualitas air secara periodik, ada yang 2 mingguan dan ada yang 3 bulanan. Titik pengambilan sampelnya dari hulu ke hilir Sungai Brantas yang melintasi Kota Surabaya, Gresik maupun Sidoarjo.

“Jadi berdasarkan hasil pemantauan kami di Triwulan 2 tahun 2026, sungai di Kota Malang ini hampir sebagian besar tercemar ringan. Ini indikasinya dari kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) berada di bawah baku mutu air,” terang Agung.

Baca juga:

Sungai Brantas Mulai Tersedak Limbah dan Sampah

Selain itu, juga terindikasi kadar fosfat yang melebihi baku mutu air. Menurutnya, kandungan polutan ini berasal dari pupuk yang masuk ke ke sungai. Memang hal yang umum dalam kegiatan pertanian menggunakan pupuk yang ada kandungan pospatnya.

“Ini juga bisa dari mikroplastik atau dari limbah usaha yang ada di Kota Malang. Jadi kalau dari sisi kondisi statusnya adalah tercemar ringan. Sedangkan dari indeks kualitas airnya, ini kalau di catatan kami masuk dalam kategori sedang,” lanjutnya.

Dari segi ilmiah, Dosen Teknik Pengairan Universitas Brawijaya Dr Ir Sebrian Mirdeklis Beselly Putra MT MEng menyebut pencemaran pada Sungai Brantas itu sebagai point souce pollution. Lalu melihat durasinya cukup singkat yaitu hanya satu jam, menunjukkan ada aktivitas pembuangan limbah yang sangat cepat (shock loading).

Baca juga:

Ironis, Sungai Brantas Tak Ubahnya Tempat Sampah Umum

“Jadi ada sebuah jumlah volume pencemar yang sangat banyak dibuang dalam waktu yang bersamaan dan cepat (shock loading). Nah, kemudian tidak lama mengalami pengenceran. Perubahan ini mengganggu siklus alami sebuah sungai,” jelas Sebrian.

Menurutnya, ini adalah taktik untuk mengelabuhi petugas. Maksudnya, ada oknum yang memang sengaja tidak membuang limbah secara continuous, melainkan secara tiba-tiba.

“Harapannya limbah itu segera hilang. Kalau dari model warnanya, dia ungu pekat itu berarti bisa jadi mengarah ke zat warna tekstil atau Kalium permanganat. Nah, tinggal kita lihat saja di sekitar itu ada industri apa saja atau potensi sumber pencemaran apa saja. Misalkan mungkin ada industri kreatif atau UMKM itu bisa jadi kurang paham bagaimana cara mengolah limbahnya sendiri,” lanjutnya.

Seberapa besar dari Sungai Brantas yang tercemar ini tentu butuh pembuktian secara kualitatif. Akan tetapi Sebrian mengatakan berdasarkan tampilan visual air, sudah pasti tidak consumable ya. Tidak layak konsumsi baik manusia atau tumbuhan. Sehingga, ia menegaskan pencemaran ini harus segera ada solusi untuk mengatasi limbah pekat ini. (MA)

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button

Visual Radio

x