Atasi Krisis Air Bersih, Perpamsi Jatim Kerahkan Tangki ke Daerah Terdampak

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Sejumlah sumber air, sumur hingga bendungan mengalami penyusutan debit air imbas kemarau berkepanjangan. Sementara kebutuhan masyarakat relatif bertambah. Untuk mengatasi krisis air bersih ini, Ketua PD Perhimpunan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) Jawa Timur Priyo Sudibyo mengerahkan BUMD air minum untuk mengirimkan bantuan ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD Jawa Timur untuk berkolaborasi untuk menjangkau daerah-daerah yang belum terakses BUMD air minum. Seperti di atas gunung, hingga desa yang tidak ada distribusi perpipaan dari perusahaan air minum.
“Nah dan ini sudah sudah bergerak semua BUMD. Terutama di Sumenep sudah dilaksanakan. Sampang sudah, ada laporan dari beberapa daerah, dari Situbondo, dari Jember, dari Lumajang, Bojonegoro, Lamongan, Blitar. Bergerak artinya membantu masyarakat di daerah-daerah kekeringan, di daerah-daerah yang sudah tidak ada lagi sumber air,” jelas Priyo.
Khusus di Kota Malang sendiri, Priyo telah menyiapkan 3 tangki air berkapasitas 3.000-4.000 liter dan 1 tangki air berkapasitas 5.000 liter. Untungnya, Kota Malang belum sampai pada tahap kekeringan atau kelangkaan air. Sehingga, truk-truk tangki tersebut untuk melayani pelanggan yang mengalami gangguan aliran air atau kebocoran.
Baca juga:
Pemkot Malang Lirik Sumber Air di Merjosari Dikelola Perumda Tugu Tirta
“Kami pun juga berkolaborasi ketika PDAM Kabupaten Malang membutuhkan tangki untuk menyuplai air, kita siapkan juga,” lanjutnya.
Lalu langkah selanjutnya pada 23 Oktober di Jember, pihaknya akan bergerak bersama BPBD Jawa Timur dan Dinas PU Jawa Timur untuk berkolaborasi mengatasi krisis air bersih secara masif. Ia menargetkan seluruh BUMD air minum di Jawa Timur bisa bersama-sama menanggulangi kelangkaan air.
“Maka itu, saya mensosialisasikan agar kita mulai dari Kota Malang. Jadi kita juga mengusulkan agar perda pembatasan penggunaan air sumur, itu bisa diminimalisir. Karena pengambilan dari sumur yang tidak terkontrol, jadinya tidak ada lagi perawatan, tidak ada reposisi, tidak ada penanaman kembali dan tidak ada lagi yang namanya merawat sekitar sumber,” lanjutnya.
Salah satu contohnya, ia dan jajaran telah melakukan pembersihan sumber air di Kelurahan Merjosari. Lalu menanam pohon-pohon yang itu menjadikan aquifer-nya di beberapa sumber.
“Jadi merawat sumber, menjaga lingkungan itu bagian dari upaya kami,” kata Direktur Perumda Tugu Tirta Kota Malang itu.
Di samping itu, pihaknya juga sudah melakukan pengerukan sedimen di Sungai Wendit setelah 12 tahun. Hasilnya, sumber-sumber air yang semula tertutup, akhirnya terbuka.
“Sekarang masyarakat sekitar Wendit bisa memanfaatkan sungai tersebut untuk pariwisata desa, sebelah kanan kirinya kita tanami pohon-pohon lagi, bisa buat perahu-perahuan di sana karena kedalamannya sudah sampai 1,5 sampai 2 meter, yang dulu hanya 20 cm dan itu menjadi langganan banjir setiap tahun,” terangnya.
Oleh karena itu, pihaknya menginstruksikan kepada PDAM untuk bersama-sama untuk merawat sumber air. Artinya, pemerintah tidak hanya mengambil, tapi juga merawat sumbernya. Selain merawat sumbernya, juga menanam kembali pohon-pohon yang dapat menyerap air yang dapat bermanfaat di kemudian hari.





