Puluhan UMKM Kota Batu Ikuti Pelatihan Scale Up

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Puluhan pelaku UMKM di Kota Batu mengikuti pelatihan Scale-Up Daya Saing Produk Lokal Menuju Jantung Gastronomi Dunia Melalui Inovasi dan Sinergi Ekosistem yang digelar di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Jumat sore (28/11). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi UMKM agar mampu meningkatkan kualitas produk, memperkuat legalitas, dan memperluas akses pasar hingga level internasional.
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan legalitas usaha. Menurutnya, persoalan legalitas masih menjadi pekerjaan rumah yang signifikan di Kota Batu.
“Scale up ini tidak hanya masalah produksi saja, tapi juga legalitas, higienis, dan berbagai persoalan lain yang selama ini dihadapi teman-teman UMKM,” ujarnya.
Heli menegaskan bahwa salah satu syarat utama agar bisnis UMKM bisa berkembang adalah kemudahan dalam mengurus legalitas. Meski antusiasme masyarakat terhadap sertifikasi halal cukup tinggi—bahkan target 2.000 sertifikasi bisa tembus hingga 3.000—namun beberapa jenis perizinan lain seperti BPOM masih perlu perhatian lebih serius.
Pemerintah Kota Batu, lanjut Heli, akan memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dinas dan lembaga terkait seperti Bea Cukai, untuk membantu proses administrasi dan legalitas UMKM secara lebih intensif.
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Candra Fajri Ananda yang hadir sebagai pemateri, menekankan pentingnya kesiapan UMKM dalam menghadapi tantangan pasar yang semakin kompetitif. Ia mengawali paparannya dengan mengapresiasi pelaku usaha yang hadir serta menggambarkan betapa krusialnya sektor UMKM bagi perekonomian nasional.
“UMKM adalah soko guru ekonomi Indonesia. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana meningkatkan nilai tambah dan memenuhi standar ketika ingin masuk pasar yang lebih luas, apalagi pasar internasional,” jelasnya.
Prof. Candra menyoroti pentingnya pemenuhan standar seperti BPOM, sertifikasi halal, hingga kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar global. Ia mencontohkan Jepang yang kini menyediakan banyak makanan berlabel halal, menunjukkan bahwa standar menjadi pintu masuk utama keberhasilan produk Indonesia di luar negeri.
Selain soal standar, Prof. Candra juga memaparkan tantangan besar UMKM dalam hal pembiayaan. Ia menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM belum bankable akibat lemahnya pencatatan keuangan dan tata kelola. Karena itu, peran lembaga pembiayaan pemerintah seperti PIP, UMi, serta dukungan penjaminan seperti Jamkrida sangat dibutuhkan.
Ia juga mengungkap perkembangan teknologi pembiayaan masa depan, seperti securities crowdfunding dan digitalisasi aset, yang memungkinkan pendanaan tanpa bergantung pada bank. Meski begitu, ia mengingatkan agar UMKM tetap berhati-hati terhadap pembiayaan berbunga tinggi seperti peer-to-peer lending.
Prof. Candra menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan melalui dinas, perguruan tinggi, dan organisasi non-profit. Menurutnya, UMKM membutuhkan dukungan bukan hanya dari sisi permodalan, tetapi juga peningkatan kualitas produk, desain, standar produksi, hingga teknologi seperti Artificial Intelligence untuk perencanaan produksi.
“Kalau UMKM ingin naik kelas, maka kualitas produk, perizinan, dan tata kelola harus meningkat. Pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penjamin harus bersinergi agar UMKM benar-benar bisa menghadapi pasar yang lebih besar,” tutupnya.
Reporter: Asrur Rodzi




