Ekonomi BisnisNews

Petani Hayati di Pagelaran Panen Padi Bebas Pupuk Kimia

Panen padi organik di Kecamatan Pagelaran. (Foto: Intan Refa)
Panen padi organik di Kecamatan Pagelaran. (Foto: Intan Refa)

CITY GUIDE FM, KABUPATEN MALANG – Petani dari Kelompok Tani Hayati Mataram Jaya Binangun, Desa Balearjo Kecamatan Pagelaran berhasil membudidayakan padi organik varietas baru bebas pupuk dan pestisida kimia. Padi yang masih belum memiliki nama ini sudah dipanen di sejumlah lahan sebagai bagian dari uji coba.

Antara lain di Kecamatan Turen, Pakisaji dan Kasembon. Lalu pada Rabu (8/4/2026), panen dilakukan di Kecamatan Pagelaran dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Malang Lathifah Sohib dan sejumlah profesor dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi.

Ketua Tim Petani Bahagia 10 dr Subagyo yang mendorong inisiasi ini mengungkapkan rasa kekhawatirannya terhadap konsumsi pangan yang saat ini yang tidak lepas dari kandungan bahan kimia. Latar belakangnya sebagai dokter juga menjadi alasan mendorong budidaya padi hayati ini.

“Dari estimasi kita ukur dari bulirnya dan lain-lain, ini kita pastikan 1 hektar 8 ton (gabah). Tetapi yang kita masalahkan, ini kan semula itu pake kimia. Mengubah tanah dari kimia ke organik itu tidak ujug-ujug. Perlu proses, sekitar 2-3 panen itu. Yang nanti makin hari, panen berikutnya terus bertambah. Ini panen kedua harapannya sudah 10 ton, panen ketiga lebih dari itu. Istilahnya tanahnya sudah mateng,” kata dr Subagyo.

Siapa inisiator di balik padi organik ini?

Dia adalah Boing Kristiawan yang memang hobi melakukan persilangan benih padi. Sejak tahun 2004 yang lalu, ia sudah aktif berburu bibit padi lokal untuk dilakukan persilangan.

“Jadi padi-padi lokal yang ada di Indonesia itu, kita pilih, kita seleksi. Kemudian kita silangkan mana yang sesuai dengan keinginan kita,” kata Boing.

Padi organik yang baru dipanen di Desa Balearjo itu merupakan hasil dari persilangan antara bibit padi Sitamba Tua dari Sibolga, padi Sidowayah dari Blitar yang disilangkan dengan Rondokoyo dari Pasuruan.

“Ini saya mulai sejak tahun 2004 dan baru selesai tahun 2012. Karena lahannya sempit. Proses pengulangan padi itu kan ada yang 4 bulan, ada yang 6 bulan. Jadi paling setahun cuma 2 kali,” terangnya.

Misalnya saja padi Sitamba tua itu usianya 8 bulan. Lalu melihat karakter tanamannya dan berhasil tidaknya proses persilangan. Kalau gagal, mulai dari awal lagi, begitu seterusnya.

“Jadi intinya kami ingin melestarikan plasma nutfah yang ada di Indonesia supaya tidak hilang, tidak punah. Karena kebanyakan petani kita saat ini sudah tidak mau menanam padi lokal karena usianya lama ada yang 6 bulan, 8 bulan,” lanjutnya.

Karakteristik padi

Secara garis besar, varietas padi ini memiliki karakteristik tahan rebah, produktivitasnya tinggi dan tidak mau menerima bahan kimia apapun.

“Ini kalau kena kimia, apalagi racun rumput atau pestisida, rusak padi ini. Rusaknya ya produktivitasnya jadi rendah, kadang malah bisa mati. Yang kemarin di Turen itu kena racun rumput, itu sudah mau mati. Tapi untung kemudian kita selamatkan dengan pemberian anti kimia (herbisida) yang cukup besar. Akhirnya terselamatkan yang di Turen itu, tapi mahal ongkosnya,” papar Boing.

Lalu, padi ini juga menggunakan pupuk kotoran hewan (kohe) sapi yang telah difermentasikan. Umumnya, satu hektar sawah membutuhkan 5 ton kohe untuk sekali panen. Berbeda jika tanahnya telah terpapar bahan kimia sebelumnya, maka butuh effort lebih atau sekitar 10 ton per hektar.

“Seperti yang di sini, itu selama 14 hari perbaikan tanahnya. Jadi setelah 14 hari, langsung tanami,” lanjutnya.

Ia sengaja membuat jenis padi seperti ini agar petani berdaulat di pupuk dan obat-obatan (herbisida) organik. Kata Boing, kebutuhan petani itu hanya tiga yaitu benih, pupuk dan obat-obatan. Ketika semua hal ini petani dapat meramu sendiri, mereka tidak lagi pusing dengan harga pupuk dan pestisida yang semakin naik.

Tidak hanya itu, umumnya 1 hektar sawah itu memerlukan 8 kilogram bibit padi, tetapi jenis padi ini cukup perlu 2 kilogram. Berdasarkan hasil pengamatan, satu batang padi, rata-rata mampu “beranak” sampai 35-37 batang. Kemudian, satu tangkainya itu memiliki 450-477 bulir, sementara padi pada umumnya hanya 100-200 bulir.

Apresiasi dari pemerintah

Wakil Bupati Malang Lathifah Sohib mengapresiasi inisiatif petani dari poktan Hayati Mataram Jaya Binangun sebagai salah satu upaya ketahanan pangan. Secara tidak sengaja, ia sempat menyebut padi ini dengan nama padi PB10 yang kemudian disambut positif oleh para tamu undangan.

Pihaknya berencana menjadwalkan pertemuan dengan dinas terkait agar budidaya padi varietas baru ini dapat dikembangkan lebih luas lagi.

“Mungkin nanti kapan kita diskusi dengan dinas pertanian dan dari Uni Tri. Nanti kami atur jadwalnya dengan pak kadis. Nanti diatur waktunya kita diskusi dengan bapak-bapak dan para guru besar dari Unitri, ” Kata Lathifah dalam sambutannya.

Panen padi hayati ini tentu menjadi harapan baru bagi masyarakat Malang Raya untuk memilih bahan pangan yang sehat dan organik.

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button