
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Peta persaingan cabang olahraga pencak silat di gelanggang memang tidak mudah. Hal ini diakui oleh Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Malang Drs Parso Adiyanto yang mengatakan bahwa banyak pesilat kompetitor yang secara mental lebih siap dan terampil.
Layaknya bukit terjal, pesilat Kota Malang khususnya, harus konsisten berlatih mengasah kemampuan silatnya. Akhirnya, selangkah demi selangkah medali emas pun berhasil diraih.
“Ya pasang surut, karena memang persaingan ketat. Tapi alhamdulillah kita tetap memberikan kontribusi. Kemarin ada emasnya untuk Kota Malang. Sebelumnya masih dapat perak dan perunggu. Sebetulnya kita dapat 2 emas, tapi satu masih ekshibisi,” kata Parso.
Menurut Parso, yang paling menentukan kemenangan di pertandingan tergantung pada teknik, strategi dan keberuntungan. Maka, proses regenerasi calon atlet tidak boleh terputus.
Berbicara soal regenerasi, Parso mengatakan tidak terlalu khawatir terhadap kuantitas atau jumlah pesilat. Karena ada ribuan pesilat di Kota Malang. Sehingga, pihaknya fokus pada sistem seleksi atlet.
“Itu dari ribuan, kita adakan seleksi kota untuk penjaringan awal. Jadi kita melakukan seleksi di tingkat Kota Malang, dari anggota IPSI 15 perguruan silat itu yang masing-masing perguruan anggotanya relatif ada seribu dua ribu. Itu kita adakan kejuaraan internal di Kota Malang, Kejurkot namanya,” lanjutnya.
Rencananya, Kejurkot Pencak Silat tersebut akan diadakan pada April mendatang setelah Hari Raya Idul Fitri. Setelah penjaringan awal itu, lalu masuk tahap prapuslatkot.
“Prapuslatkot ini kita mandiri. Kalau sudah puslatkot itu sudah dibiayai oleh KONI. Kita update terus, Insya allah untuk pencak silat tidak kekurangan stok, kita banyak. Tinggal me-manage-nya bagaimana persiapan atlet menggantikan seniornya,” ungkap Pembina Perguruan Silat PAMUR itu.
Dari sini terlihat ya, bahwa perlahan tapi pasti, cabor pencak silat Kota Malang berupaya keras dalam meningkatkan prestasinya. Para pesilat ini bukan hanya atlet di arena, tapi mereka juga penerus kekayaan budaya dari leluhur. (adv)
Editor: Intan Refa




