Lahan Pertanian Kelurahan Merjosari Hasilkan Cabe 1 Ton

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Lahan pertanian di Kelurahan Merjosari, Lowokwaru seluas 3 ribu meter persegi tercatat mampu memproduksi 1 ton cabai merah besar. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang Slamet Husnan Hariyadi menjelaskan bahwa dalam satu masa tanam, petani dapat memanen hingga 10–12 kali.
“Ini sudah panen keenam. Kalau kemarin totalnya sekitar satu ton dari luas tanam 3.000 meter persegi,” ujarnya.
Menurutnya, hasil panen sangat dipengaruhi oleh kondisi lahan dan cuaca. Wilayah Merjosari termasuk lahan tadah hujan, sehingga waktu tanam sangat bergantung pada musim hujan yang stabil.
“Petani baru berani tanam sekitar Oktober–November kemarin. Kalau hujan normal justru bagus, tapi kalau curah hujan terlalu tinggi apalagi malam hari, bisa memicu jamur dan serangan lalat buah,” jelasnya, Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan, hujan lebat sempat menyebabkan beberapa tanaman menguning dan berdampak pada kualitas cabai. Untuk mendukung produktivitas petani, pihaknya memastikan ketersediaan pupuk baik subsidi maupun non-subsidi dalam kondisi aman.
Perencanaan kebutuhan pupuk dilakukan melalui penyusunan e-RDKK (Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) yang melibatkan kelompok tani dan penyuluh pertanian.
“Pupuk subsidi ini sangat membantu karena selisih harganya cukup jauh. Ada yang subsidi sekitar Rp90 ribu per sak, sementara non-subsidi bisa sampai Rp300 ribu,” katanya.
Selain pupuk, petani juga didukung dengan ketersediaan pestisida, herbisida, dan fungisida untuk mengatasi hama serta penyakit tanaman. Meski Kota Malang bukan daerah produsen utama cabai, produksi lokal tetap berkontribusi terhadap pasokan pasar dan stabilitas harga.
“Kita juga bekerja sama dengan daerah sentra cabai seperti Lumajang dan Jember, bahkan dari Bali. Ini membantu menjaga ketersediaan,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa harga komoditas pertanian, termasuk cabai, sangat fluktuatif. Saat panen raya, harga biasanya turun tajam. Karena itu, pengaturan masa tanam menjadi penting agar produksi tidak menumpuk dalam satu waktu.
“Kalau panen terlalu bersamaan, harga pasti jatuh. Maka perlu pengaturan agar produksi tetap stabil,” tambahnya.
Dispangtan sendiri terus melakukan pendampingan intensif kepada petani, mulai dari penyemaian benih, masa pertumbuhan tanaman, penanganan penyakit, hingga menjelang panen.
Reporter: Heri Prasetyo
Editor: Intan Refa




