NewsPeristiwa dan Kriminal

Walhi Jatim: Banjir Bumiaji Akumulasi Kerusakan di DAS Brantas

Tim gabungan melakukan pembersihan material lumpur banjir di Kecamatan Bumiaji. (Foto: Istimewa)
Tim gabungan melakukan pembersihan material lumpur banjir di Kecamatan Bumiaji. (Foto: Istimewa)

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Peristiwa banjir luapan yang menerjang kawasan Kecamatan Bumiaji pada Senin (30/3/2026), dan banjir susulan pada Rabu (1/4/2026) kemarin menjadi sorotan tajam Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur.

Walhi menilai banjir tersebut bukanlah fenomena cuaca ekstrem semata. Melainkan akumulasi dari “salah urus” tata ruang yang telah berlangsung masif selama lima tahun terakhir di wilayah hulu.

Ketua Walhi Jawa Timur Pradipa Indra Ariono mengungkapkan bahwa pekatnya sedimentasi lumpur yang merendam rumah warga di Desa Tulungrejo dan Desa Punten adalah bukti nyata erosi besar-besaran di kaki Gunung Anjasmoro.

Baca juga:

Nurochman Soroti Wisata Baru di Tulungrejo, Imbas Banjir Lumpur

Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Kota Batu, material lumpur bahkan menutup akses jalan menuju Dusun Wonorejo dengan ketebalan mencapai 50cm.

“Banjir bandang ini membawa sedimentasi tanah yang sangat pekat, bahkan lebih parah dari kejadian-kejadian sebelumnya di Kali Paron. Jika kita telusuri arus sungainya, ini adalah dampak dari rusaknya catchment area di sepanjang kaki Gunung Anjasmoro hingga kawasan Coban Talun,” ujar Pradipa.

Pihaknya juga mencatat adanya alih fungsi lahan hutan yang cukup ekstrem di utara Sungai Brantas. Kawasan yang seharusnya menjadi penyangga air, kini banyak berganti menjadi destinasi wisata buatan dan perkebunan sayur tanpa sistem konservasi. Padahal kata Pradipa, Bumiaji adalah “jantung” bagi ekosistem Kota Batu karena menyimpan banyak sumber mata air yang menghidupi wilayah di bawahnya.

“Kejadian di Kali Paron harus menjadi peringatan keras. Bumiaji memiliki kawasan sensitif dengan banyak titik resapan air. Ketika alih fungsi ini terus dibiarkan, dampaknya akan terakumulasi dan warga di wilayah hilir yang harus menanggung risiko bencana paling besar. Keselamatan masyarakat telah dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi yang tidak berkelanjutan,” tegasnya.

Oleh karena itu, Walhi Jawa Timur mendesak pemerintah untuk segera melakukan pemulihan kawasan hutan. Serta tidak hanya melihat bencana sebagai insiden sektoral, melainkan masalah ekologi yang saling terhubung dari hulu ke hilir.

Editor: Intan Refa

Asrur Rodzi

Jurnalis City Guide FM yang berfokus pada liputan berita seputar Kota Batu, mencakup isu pemerintahan, pariwisata, peristiwa, dan perkembangan terkini di wilayah Kota Batu dan sekitarnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button