Pertanian Sayur di Kota Batu Tidak Punya Terasering Memadai

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Wali Kota Batu Nurochman mengidentifikasi hilangnya sistem terasering pada lahan pertanian di wilayah hulu sebagai salah satu pemicu terjadinya banjir luapan di Kecamatan Bumiaji.
Saat meninjau kemarin, ia melihat langsung ada lahan pertanian yang berada di kemiringan yang cukup tajam. Namun tidak memiliki sistem penahan air yang memadai.
Fenomena ini memang seiring dengan banyaknya area pertanian yang berganti tanam dari tanaman keras seperti apel ke tanaman sayur. Padahal, tanaman sayur memiliki akar pendek tidak mampu mengikat tanah sekuat pohon apel atau tanaman tegak lainnya. Sehingga laju erosi menjadi tidak terkendali.
Baca juga:
Nurochman Soroti Wisata Baru di Tulungrejo, Imbas Banjir Lumpur
Menurutnya, pola tanam yang mengabaikan kaidah konservasi tanah inilah yang membuat air hujan langsung membawa material tanah ke bawah.
“Rata-rata dari pertanian di Kota Batu yang alih fungsi itu banyak yang tidak menggunakan sistem terasering. Dampaknya betul, salah satunya itu,” ujarnya saat berdialog dengan awak media di lokasi terdampak.
Menurutnya, secara teknis pola pembuatan bedengan atau gulutan di lahan pertanian saat ini cenderung berupa hamparan terbuka. Tanpa ada galangan atau pematang yang kuat, tanah yang gembur di lereng bukit menjadi sangat rapuh saat diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
“Jadi jenis gulutannya itu ndak ada ketahanan, ndak ono galanganne (tidak ada pematangnya), langsung hamparan. Sehingga kalau hujan deras pasti berpotensi untuk terjadi erosi,” sambungnya.
Nurochman menyadari bahwa pilihan petani untuk menanam sayur didorong oleh motif ekonomi karena masa panen yang lebih cepat yakni sekitar 3-6 bulan. Namun, ia mengingatkan bahwa pragmatisme tersebut membawa risiko besar bagi keselamatan masyarakat luas di wilayah Kota Batu.
“Ayo saling bertanggung jawab, terutama bagi penggarap lahan pertanian. Jangan kemudian berpikir jangka pendek hasilnya cepat, tetapi ada akibat-akibat yang membahayakan bagi masyarakat yang lain,” imbaunya.
Lebih lanjut, pihaknya berencana melakukan evaluasi menyeluruh terkait pola tanam di wilayah rawan bencana ini.
“Ini yang ke depan harus ada langkah konkret sehingga ada komitmen yang sama antara pemerintah, masyarakat, apalagi dengan para petani. Menjaga kelestarian dan menjamin keselamatan wilayah itu lebih penting,” tutupnya.
Editor: Intan Refa




