
Sebagai seorang akademisi, saya sempat tertegun mencermati hasil riset terbaru dari Universitas Harvard yang berkolaborasi dengan lembaga riset global ternama, Gallup. Betapa tidak? Di tengah berbagai indikator makro yang menantang, laporan tersebut justru menempatkan Indonesia pada peringkat teratas untuk tingkat kesejahteraan menyeluruh (well-being) di dunia.
Secara sekilas, temuan ini mungkin terasa kontradiktif. Kita semua mafhum bahwa bangsa ini masih bergelut dengan berbagai persoalan ekonomi: tantangan lapangan kerja, ketimpangan sosial, hingga tekanan geopolitik global yang kian bergejolak.
Namun, jika kita turun ke “akar rumput”, melihat lebih dekat denyut nadi di Jawa Timur, khususnya di Malang Raya, kita akan menemukan jawaban mengapa optimisme itu tetap menyala terang.
Kesejahteraan dari Pintu Spiritual
Rahasia kesejahteraan masyarakat kita rupanya tidak melulu terukur dari angka materi atau PDB semata, melainkan dari kedalaman keyakinan kepada Allah SWT. Ada rasa syukur yang mendarah daging di sana.
Coba tengok pasar-pasar kita. Mulai dari Pasar Gadang, Blimbing, Pasar Besar, hingga Tawangmangu. Keramaian yang tampak di sana bukan sekadar transaksi ekonomi dingin.
Di sana ada ekspresi kebahagiaan sederhana. Belanja untuk makan bersama keluarga dan semangat untuk saling berbagi.
Fenomena ini selaras dengan laporan The World Giving Index yang konsisten menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia. Kita adalah bangsa yang paling gemar berderma, berbagi waktu, tenaga, hingga harta melalui zakat mal, zakat profesi, hingga sedekah.
Peningkatan pengumpulan zakat di masjid-masjid saat ini adalah bukti nyata, gejolak dunia tidak sedikit pun menggoyahkan sandaran masyarakat kita kepada Sang Pencipta.
Merawat Hastalaku dan Harmoni Sosial
Inilah kekayaan kita yang sesungguhnya, sebuah khazanah laku yang kita kenal sebagai Hastalaku. Nilai-nilai gotong royong, guyub rukun, ramah-tamah, dan tepa selira (tenggang rasa) bukan sekadar slogan usang, melainkan napas hidup masyarakat Nusantara.
Keramahan dan keluhuran budi pekerti inilah yang membuat dunia iri. Bahkan, banyak warga dunia jatuh hati pada wajah Islam di Indonesia yang moderat, damai, dan rendah hati.
Menyongsong Kemenangan yang Beradab
Saat kita menyongsong Idul Fitri 1447 Hijriah ini, mari kita rayakan dengan perpaduan antara kebahagiaan personal dan kepedulian sosial. Mari sejenak menepikan tekanan hidup untuk beribadah secara religius sekaligus sosial. Inilah momentum emas bagi kita untuk membuktikan diri sebagai umat terbaik (khairu ummah).
Selamat Idul Fitri. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keridaan-Nya bagi masyarakat Jawa Timur. Khususnya warga Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang. Semoga kita tidak hanya menjadi masyarakat yang sejahtera di dunia, namun juga dipertemukan kembali dalam keabadian di surga-Nya kelak.
Minal Aidin Wal Faizin, Kullu ‘Am Wa Antum Bi Khair.
Oleh: Prof. H. M. Mas’ud Said
(Direktur Pascasarjana Unisma & Ketua Yayasan Bidang Sosial Kemasyarakatan Sabilillah Malang)




