Blues Spirit Sesi 80: Jangan Me To (Bagian 2)
Kita semua tahu, salah satu obat untuk menyembuhkan lemahnya perekonomian adalah investasi. Karena di dalam investasi, akan ada tenaga kerja, belanja dan transaksi.
Maka investasi, selain harus diupayakan untuk bertambah di suatu daerah, juga harus dirawat terutama yang sudah ada. Yang baru dan sudah ada, ini penting dirawat sampai benar-benar bagus dan sehat, dikembangkan.
Bukan saja oleh pengelolanya, tapi juga oleh pemerintah dan warga. Berkolaborasi.
Itu untuk memelihara supaya ekosistem ekonomi bergerak lebih bagus, lebih besar. Temukan model bisnisnya, supaya sama-sama untung.
Kita semua sudah tahu juga, berapa nilai investasi baru yang masuk ke Malang Raya. Sudah kita bahas pada Blues Spirit Sesi 79 lalu.
Tapi sudahkah kita sadari, mengapa ada yang tak mencapai target? Sudah sederhanakah perizinan?
Pemerintah memang bisa bilang, semuanya sudah digital, transparan. Tapi mengapa dalam prosesnya harus ada rekomendasi-rekomendasi yang offline?
Dan pihak calon investor harus ambil sendiri di masing-masing pos? Bukankah itu berpotensi transaksi gelap?
Sebenarnya pengusaha tidak keberatan kalau harus mahal. Tapi perlu jelas dan sesuai aturan. Supaya terukur untuk menentukan struktur biaya.
Jangan bebani terlalu berat sesuatu investasi. Yang ada, jangan biarkan sampai mati sendiri, sampai usahanya itu diberikan kepada investor baru yang lain lagi.
Ini yang saya harap, jangan sampai terjadi di Batu. Kota yang investasinya sudah jauh melampaui targetnya itu.
Sehubungan dengan itu, saya ingin menyampaikan kesan saya terhadap satu obyek wisata di Batu yang menurut saya baru. Karena baru minggu lalu saya sempat ke situ yaitu wisata dusun kuliner.
Kesan saya ini bolehlah kalau disebut studi kasus seperti yang saya bilang pada sesi 79 itu.
Begini, begitu saya masuk ke obyek itu, sama seperti masuk obyek wisata manapun di Batu, bagus. Karena alamnya yang dikelilingi gunung dan bukit. Ini given dari Tuhan. Udaranya pun sejuk.
Batu adalah Luzern atau Swiss-nya Indonesia. Tapi lalu di dalam, saya tidak menemukan identitas apa yang akan ditonjolkan, kecuali hamparan yang luas. Sekuel-sekuelnya, di dalam lokasi itu bisa kita temukan di banyak obyek wisata lain di Batu.
Ada taman hortensia. Tapi saya akan dapat lebih luas, bagus dan beragam di Coban Talun. Kulinernya, sama seperti yang kita temukan di alun-alun. Tempat ngopinya, di luar banyak yang lebih enak dan alami.
Ada rumah nuansa desa untuk kumpul di obyek itu, yang berada di ketinggian. Tapi kurang ramah untuk umum. Tinggi tangganya mungkin 22 cm. Orang bisa tersandung ketika naik atau njlungup ketika turun.
Padahal arsitek Indonesia sepakat tangga yang cocok untuk orang Indonesia yang tinggi badannya antara 158-178 cm adalah 15 cm. Saya juga tidak mengerti karakter apa yang hendak diekspresikan.
Padahal obyek ini berada di wilayah Sumberbrantas, daerah penghasil kentang. Kentang hitam maupun kentang granola. Juga wortel, brokoli dan sawi.
Tadinya saya mengira akan menemukan patung kentang raksasa dan hamparan tanaman kentang yang ditata indah, diselingi wortel dan sawi juga brokoli.
Lalu, aneka jajanan maupun makanan yang dibuat berbasis kentang. All about potatoes. Tapi secuilpun tidak saya temukan. Mungkin belum sekarang. Saya percaya, obyek ini belum selesai. Di sana sini masih ada yang masih dibangun.
Mudah-mudahan kelak selesai, sudah ada identitas dan karakternya yang menambah icon baru bagi wisata di Batu. Itulah sebabnya, saya menaruh harapan besar kepada pemerintah Kota Batu atau anak-anak muda yang pintar-pintar di dalam Koperasi Coosae untuk ikut memberi masukan.
Jangan biarkan investasi baru, layu sebelum berkembang.




