Budaya dan PariwisataNews

Apel Koyak, Wujud Kegelisahan Seniman pada Eksplorasi Alam

Salah satu karya Apel Batu yang terkoyak di Galeri Raos. (Foto: Asrur Rodzi)
Salah satu karya Apel Batu yang terkoyak akibat eksplorasi alam di Galeri Raos. (Foto: Asrur Rodzi)

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Sebuah monumen beton tampak menonjol keluar di pelataran Galeri Raos dalam beberapa hari terakhir. Bentuknya serampangan, keras dan jauh dari kesan alami. Instalasi tersebut bukan sekadar ornamen, melainkan bagian dari pertunjukan seni bertajuk Garis Hijau. Sebuah pameran yang menjadi media jeritan para seniman Kota Batu dalam menyuarakan kerusakan lingkungan akibat eksplorasi alam berlebihan.

Pameran Garis Hijau berlangsung mulai 10 hingga 31 Januari. Sebanyak 49 pelukis dan perupa Kota Batu berkolaborasi menghadirkan karya-karya yang lugas, frontal, dan sarat pesan.

Seluruh ruang Galeri Raos dipenuhi karya seni yang secara terang-terangan mengkritisi kondisi lingkungan. Terutama dampak alih fungsi lahan dan pembangunan yang masif.

Salah satu karya yang paling mencolok adalah seni instalasi 3 dimensi berbentuk apel yang ditopang oleh tumpukan beton. Apel tersebut tampak terkoyak, memperlihatkan lanskap Kota Batu di bagian dalamnya. Karya ini seolah menjadi simbol ironi, mengingat Kota Batu sejak lama dikenal dengan julukan Kota Apel.

Seniman Agus Sujito, pencipta karya tersebut, menjelaskan bahwa instalasi itu merupakan ekspresi kegelisahannya terhadap kondisi lingkungan Kota Batu saat ini. Menurutnya, apel sebagai identitas daerah semakin sulit ditemui, seiring maraknya alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan perumahan dan wisata.

“Sekarang sudah sulit mencari apel yang bagus di kota yang dulu disebut Kota Apel. Banyak lahan beralih fungsi menjadi perumahan dan tempat wisata. Itu yang ingin saya sampaikan, tentang kerusakan alam yang terjadi,” jelas Agus.

Tak hanya soal apel, Agus juga menyoroti dampak eksploitasi alam yang tanpa tanggung jawab. Dalam karyanya, tergambar lanskap banjir bandang serta bangunan yang terdampak longsor, sebagai refleksi atas bencana yang kerap terjadi di berbagai daerah.

“Kalau kita melihat bencana alam di luar Jawa, itu semoga menjadi peringatan. Jangan sampai di Kota Batu terjadi hal serupa, jika lahan terus-menerus digunakan untuk wisata dan perumahan tanpa kontrol,” tambahnya.

Puluhan karya lain dalam pameran ini juga hadir dengan nada kritik yang tegas dan terasa keras. Agus menyebut, sengaja mengambil tema lingkungan sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap masa depan Kota Batu.

Kritik terhadap krisis lingkungan juga muncul dari karya seniman A Rokhim berjudul The Last Apple. Lukisan tersebut menampilkan transisi visual antara apel dan jeruk. Seolah menyindir kenyataan bahwa apel yang kian sulit tumbuh di dataran Batu dan mulai tergantikan oleh komoditas lain.

Pameran Garis Hijau ini diinisiasi dan difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu. Selain menjadi ruang ekspresi seniman, pameran ini menjadi media kampanye untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

Reporter: Asrur Rodzi

Editor: Intan Refa

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button