Tawur Agung Kesanga, Ritual Suci Umat Hindu Kota Batu Jelang Nyepi

CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Sebanyak 154 umat Hindu memadati Lapangan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Bumiaji pada Rabu pagi (18/3/2026). Mereka berkumpul penuh khidmat melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1948.
Prosesi sakral ini sebagai bagian dari rangkaian ritual penyucian diri menjelang hari suci Nyepi. Sebelum pelaksanaan Tawur Agung Kesanga, umat Hindu terlebih dahulu menjalani ritual Melasti di sumber air sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.
Pemimpin upacara Tri Suhasto menjelaskan bahwa Tawur Agung Kesanga memiliki makna penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.
“Ritual ini bertujuan untuk menetralisir unsur-unsur negatif, baik di alam maupun dalam diri manusia,” ujarnya di sela-sela prosesi.
Baca juga:
Tutup Nyepi, Umat Hindu Malang Raya Laksanakan Ngembak Geni
Ia menambahkan, perayaan Nyepi tahun ini mengusung tema “Vasudaiva Kutumbakam”. Artinya sebuah nilai universal yang menekankan bahwa seluruh umat manusia merupakan satu keluarga dalam satu bumi.
Dalam praktiknya, umat Hindu di Kota Batu tetap menerapkan prinsip Desa Kala Patra yakni penyesuaian ajaran agama dengan kondisi dan budaya setempat. Setelah rangkaian Tawur Agung Kesanga selesai, umat Hindu akan memasuki fase utama Nyepi yakni Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh.
Dalam masa tersebut, umat menjalankan pengendalian diri melalui empat pantangan utama yaitu tidak bekerja, tidak bepergian, tidak menyalakan api, serta tidak menikmati hiburan. Seluruhnya dilakukan secara mandiri di rumah atau di pura sebagai bentuk introspeksi diri.
Seruan instrospeksi dan perdamaian

Momentum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dimanfaatkan sebagai ruang refleksi mendalam sekaligus seruan perdamaian dunia. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Batu Parianto mengajak umat untuk menjaga harmoni di tengah dinamika global yang masih diwarnai konflik.
Parianto mengingatkan pentingnya rasa syukur atas kondisi damai masyarakat Kota Batu. Namun juga mengajak untuk tidak menutup mata terhadap konflik global di Timur Tengah.
“Tuhan menciptakan alam semesta untuk ketenangan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Namun manusia sering melampaui batas karena keserakahan,” ujarnya di hadapan umat.
Ia pun mendoakan agar konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia segera berakhir. Lebih lanjut, Parianto menjelaskan bahwa esensi Nyepi tahun ini adalah penyucian Buana Agung atau alam semesta agar kembali harmonis.
Keselarasan antara manusia dan alam menjadi syarat utama dalam mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi.
“Mari kita maknai hari raya ini dengan introspeksi diri. Jika kita mampu melihat kekurangan dalam diri sendiri, kita akan lebih dekat dengan Sang Pencipta,” pungkasnya.
Editor: Intan Refa




