KesehatanNews

RS Universitas Brawijaya Kini Punya Layanan IDC, Apa Itu?

Peresmian pusat layanan khusus penyakit infeksi (IDC) RS Universitas Brawijaya (UB). (Foto: Heri Prasetyo)
Peresmian pusat layanan khusus penyakit infeksi (IDC) RS Universitas Brawijaya (UB). (Foto: Heri Prasetyo)

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Rumah Sakit (RS) Universitas Brawijaya (UB) meluncurkan Infectious Disease Center (IDC) sebagai pusat layanan khusus penyakit infeksi, Sabtu (10/1/2026). Fasilitas ini menjadi pusat rujukan pelayanan, riset dan pengembangan kesehatan masyarakat.

Khususnya penyakit infeksi menular seperti COVID-19, tuberkulosis (TBC), HIV, hingga demam berdarah.
Rektor Universitas Brawijaya Prof Widodo mengatakan IDC tidak hanya fokus pada pelayanan pasien. Tetapi juga penguatan riset untuk pengembangan terapi, vaksin dan diagnostik penyakit infeksi.

Selain itu, pusat ini akan menjalankan riset surveilans di masyarakat serta menjadi wadah kajian public health di bidang infectious disease.

“Di samping layanan pasien, kami ingin IDC menjadi pusat riset yang kuat, mulai dari terapi, vaksin, diagnostik, hingga surveilans masyarakat. Ini penting untuk memperkuat kesiapsiagaan kesehatan ke depan,” ujar Prof Widodo.

Menurut Prof Widodo, RS Universitas Brawijaya dipilih sebagai lokasi IDC karena memiliki sumber daya manusia (SDM) yang memadai serta infrastruktur yang telah tersedia. UB juga memiliki banyak fakultas yang relevan dengan penyakit infeksi. Antara lain kedokteran, ilmu kesehatan, kedokteran hewan, farmasi, dan biologi.

Keberadaan IDC RSUB didukung hibah dari Uni Eropa sebesar 4,98 juta Euro yang disalurkan melalui Bank Pembangunan Jerman (KfW). Bantuan tersebut mencakup renovasi gedung, sistem tata udara, pengadaan peralatan medis, hingga penguatan sistem informasi.

Proyek ini juga melibatkan Embassy Jerman dan didukung oleh tim Universitas Brawijaya di bawah koordinator Prof Sasmito Jati. Sementara itu, Direktur RSUB Dr dr Viera Wardhani menjelaskan bahwa peluncuran IDC menandai kesiapannya menjadi bagian dari sistem rujukan pelayanan penyakit infeksi. Tidak hanya untuk Malang, tetapi juga Jawa Timur.

“Pengalaman pandemi COVID-19 mengajarkan kita bahwa kesiapan sistem kesehatan sangat penting. IDC ini menunjukkan bahwa RSUB siap menghadapi berbagai tantangan penyakit infeksi di masa depan,” jelasnya.

Dr Viera menambahkan tingginya angka penyakit infeksi di Jawa Timur dengan jumlah penduduk hampir 49 juta jiwa menjadi alasan kuat perlunya pusat layanan khusus. Selain pelayanan klinis, IDC dilengkapi laboratorium Biosafety Level 2 (BSL-2) yang memungkinkan deteksi dan kajian penyakit infeksi secara aman dan akurat.

IDC RSUB juga menyediakan layanan terintegrasi. Mulai dari IGD infeksius, rawat jalan, rawat inap dengan ruang isolasi kubikel satu pasien satu ruang, hingga perawatan intensif. Sistem tata udara dirancang khusus dengan tekanan negatif dan positif untuk mencegah penularan silang (cross contamination).

Standar tersebut diterapkan baik dalam pelayanan maupun riset, dengan melibatkan tenaga ahli internasional.

“Keunggulan kami ada pada sistem penghawaan dan ruang isolasi yang dirancang khusus. Sehingga keselamatan pasien dan tenaga kesehatan lebih terjamin dan proses penyembuhan lebih optimal,” ujar Dr Viera.

Dengan hadirnya IDC, pihaknya berharap dapat meningkatkan kapasitas dan mutu layanan, mempercepat deteksi serta penanganan penyakit infeksi, sekaligus memperkuat upaya pencegahan di masyarakat Jawa Timur. Pusat layanan ini juga terbuka sebagai rumah sakit rujukan sesuai sistem kompetensi nasional.

Reporter: Heri Prasetyo

Editor: Intan Refa

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button