NewsOpini

Puasa Digital

Ketua YPW JT dan Founder Arema Media Group Imawan Mashuri. (Foto: City Guide FM)
Ketua YPW JT dan Founder Arema Media Group Imawan Mashuri. (Foto: City Guide FM)

Saya senang sekali, Mas Suko dkk Jamaah Munio memilih tema “Puasa Digital” pada pengajian Rabu sore, 25 Februari, di Pendopo Stikosa Surabaya ini. Apalagi Ning Lia dan Ning Febry berkenan hadir menjadi narasumber.

Pas untuk memberi nutrisi kita menjelang bukber. Salam hormat saya dkk YPW-JT, juga ikut terima kasih kepada beliau berdua.

Terima kasih juga kepada semua jamaah yang selalu rindu mendapat dan memberikan makna untuk kemaslahatan bersama. Pada kesempatan ini, saya ingin ikut sedikit ambil sub bagian dari tema itu yaitu haram digital.

Kita faham, haram bisa berlaku pada hal-hal yang halal karena puasa. Mengonsumsi makanan dan minuman misalnya adalah sesuatu yang halal. Tapi menjadi haram, tidak boleh dikonsumsi dalam durasi ibadah puasa.

Efek pragmatis akibat tatanan politik, melihat, konsumsi yang tidak boleh, menjadi hanya sekadar makan dan minum. Kalau harus ditambah adalah hubungan suami istri.

Bagaimana dengan konsumsi digital? Coba dihitung. Saya ambil dari postingan Ustadz Mangesti Waluyo Sedjati bahwa pendidikan anak tidak hanya terjadi di kelas dan ruang keluarga. Tapi berlangsung di layar dalam 24 jam.

Lima jam di sekolah, dua jam bersama keluarga. Tapi 6-8 jam dididik oleh video pendek, game, feed, trending dan sejenisnya. Hadir menyodorkan rekomendasi jalan hidup.

Anak kita dididik di sekolah, tapi dibentuk oleh algoritma. Lalu, pelan tapi pasti, kita hadapi kenyataan.
Sekolah makin mahal, tapi adab tidak otomatis makin kuat.

Anak pintar teknis, tapi rapuh karakter. Fasih bahasa, tapi gagap tawadhu’. Melek teknologi tapi bingung batas halal haram pada digital.

Sebabnya jelas. Pendidikan formal berfokus pada kognitif, sementara pembentukan nilai diserahkan pada lingkungan.

Masalahnya, lingkungan anak hari ini bukan lagi kampung, surau dan tetangga, melainkan internet global tanpa kurator nilai. Gawai bukan lagi sekadar alat bantu. Ia berubah jadi guru diam-diam. Yang juga menghibur, menjadi teman tapi juga sekaligus membentuk identitas diri.

Siapa algoritma itu?

Ia adalah inputan luas yang mengelaborasi segala hal dan impulsi hiburan, sensasi, emosi serta konflik. Tanpa nilai.

Dia digunakan untuk keuntungan ekonomi dengan memberikan yang tercepat untuk umbaran emosi, sensasi, rasa ingin tahu dan konflik. Suguhan reaktif ini paling cepat direspon. Bukan edukasi, yang posisinya jauh di ranking bawah. Konten edukatif selalu kalah oleh konten reaktif.

Suguhan reaktif untuk supaya kita betah di depan layar karena itu adalah aliran keuntungan. Anak-anak adalah target bisnis global itu.

Sekarang kita perlu lebih jujur mengakui kenyataan ini. Anak-anak telah tumbuh digital tapi jauh dari syariah. Hak tarbiyahnya diganti oleh algoritma.

Posisi murabbi orang tua, kata Ustadz Mangesti turun menjadi sekadar penyedia kuota dan gadget. Sekolah memang modern, tapi belum menjadi kompas halal digital. Gawai dipakai tapi tanpa panduan adab.

Nyaris tak ada bahasan fiqh aurat online, fiqh hoaks, fiqh transaksi digital. Akhirnya lahirlah generasi digital native yang fasih teknologi, tapi buta kompas syariah.

Akidah jadi abu-abu, agama terasa opsional, ibadah terasa beban. Akhlak digital rusak. Bullying, komentar kasar, membuka aib jadi normal. Akal melemah, fokus pecah, sabar tipis, ingin serba instan.

Oleh sebab itu, bisakah konsumsi digital juga dikendalikan oleh puasa digital? Kesadaran kita bersama yang bisa menjawab.

Saatnya kita bangun ekosistem halal digital.

Tabik untuk Mas Suko, Ning Lia, Ning Febry, Mas Jo, Manajemen Munio dan semua jamaah.

Imawan Mashuri

Malang, 25 Februari 2026.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button