Idjen TalkNews

Plastik Mahal, Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Bahan Baku

Idjen Talk edisi 11 April 2026,"Plastik Mahal: Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Bahan Baku"
Idjen Talk edisi 11 April 2026,”Plastik Mahal, Strategi Bertahan di Tengah Kenaikan Bahan Baku”

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Sejumlah pedagang ramai-ramai menyampaikan kegelisahan mereka terhadap kenaikan harga plastik yang belakangan ini semakin mahal. Beberapa mengalami dilema, antara menaikkan harga jual dengan risiko tidak laku atau menutup produksi karena rugi atas margin yang tipis.

“Plastik naik, biaya produksi pasti naik, otomatis harga produk juga naik. Pilihannya apa produksi mandek karena rugi atau menaikkan harga jual dengan risiko barang tidak laku atau omzet turun. Sebuah dilema di daya beli rendah, harga-harga naik,” ungkap Yudi.

“Saya usaha di bidang goreng kerupuk dan kemasan. Sebelumnya, kalkulasi produksi pengeluaran untuk kemasan plastik Rp30 ribu. Sekarang untuk plastik saja produksinya ganti jadi Rp63 ribu. Belum harga minyak yang naik juga. Terus pengganti kemasan untuk kerupuk gimana? Apa pakai daun? Yang benar saja,” kata Ida.

“Sebagai pengrajin sepatu, saya juga sangat terdampak dengan kenaikan harga bahan baku. Karena ada dua bahan baku vital untuk industri sepatu yang naiknya signifikan. Bisa sampai 15-30 persen,” kata Hariyanto.

Baca juga:

Pedagang Resah, Harga Plastik di Kota Malang Naik Nyaris 100 Persen

Kabid Perdagangan Diskumperindag Kota Batu Andry Yunanto menerangkan kenaikan harga plastik punya plus minusnya. Minus atau dampak negatif untuk pelaku usaha ada pada komponen harga pokok produksi. Namun di sisi lain, dampak positifnya ini jadi momentum kampanye industri hijau.

“Kami berencana membentuk koperasi produsen untuk pembelian bahan baku secara kolektif guna menekan harga. Kami juga mendorong penggunaan kemasan alternatif berbasis kertas atau bahan biodegradable sebagai solusi jangka panjang,” kata Andry.

Konsultan PLUT UMKM Kota Batu Riyanto menjelaskan para pelaku usaha bisa menyikapi kenaikan harga plastik ini dengan efisiensi operasional. Efisiensi bisa dilakukan di seluruh tahapan produksi untuk menekan Harga Pokok Produksi (HPP).

“Efisiensi UMKM masih rendah sekitar 40-50 persen, padahal seharusnya bisa mencapai di atas 80 persen,” katanya.

Di sisi lain, Dosen Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Feri Dwi Riyanto menganalisis bahwa kenaikan harga plastik merupakan fenomena “cost push inflation”. Kelangkaan bahan baku akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Indonesia mengimpor 70-80 persen bijih plastik (nafta) dari luar negeri sehingga sangat rentan terhadap gejolak global. Karena itu, jika tidak ada efisiensi, profit UMKM bisa turun hingga 30 persen bahkan berpotensi mengalami kerugian,” jelas Feri.

Untuk mengakali kondisi sulit ini, ia menyarankan UMKM untuk melakukan diversifikasi kemasan dengan beralih ke bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, antar pelaku usaha bisa berkolaborasi untuk pembelian bahan baku secara kolektif untuk mendapatkan harga yang lebih kompetitif. (AN)

Simak selengkapnya:

Intan Refa

Editor City Guide 911 FM dengan pengalaman mengelola konten berita seputar Malang Raya. Bertanggung jawab atas akurasi, kelengkapan, dan kualitas pemberitaan di cityguide911fm.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button