Perang Iran, Israel dan Amerika: dari Sekutu Jadi Seteru

CITY GUIDE FM – Ketegangan antara Iran, Israel dan Amerika Serikat yang terus terekskalasi tak terlepas dari histori ketiga negara itu. Menurut Kepala Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang Haryo Prasodjo MA, akar konflik ketiga negara itu terjadi pada tahun 1979 saat terjadi Revolusi Islam di Iran.
Sebelum Revolusi Islam, Iran dipimpin oleh Dinasi Pahlavi termasuk Shah Reza Pahlavi yang menganut ideologi sekuler, nasionalis dan modernis. Setelah terjadinya Revolusi Islam pada 1979 menjadi Republik Islam Iran, terjadi perubahan yang cukup signifikan.
“Dari semula Israel dan Amerika Serikat adalah sekutu utama Iran, dari adanya revolusi tersebut kedua negara itu otomatis menjadi musuhnya. Berseberangan,” kata Haryo.
Mundur lagi ke tahun 1950-an saat masih menjadi sekutu, Iran dan Amerika Serikat sudah mengembangkan program nuklir. Memang saat itu, peruntukannya bukan untuk senjata melainkan sumber daya energi.
Lalu, semuanya berubah total pada Juni 2025 ketika Israel melancarkan serangan pada sejumlah titik strategis Iran. Operasi yang dikenal dengan Perang 12 Hari itu, diklaim sebagai langkah pencegahan program nuklir Iran yang dianggap ancaman keamanan.
“Dan yang menyusul di tahun ini adalah Amerika Serikat ikut campur. Nah, itu dia. Sebenarnya eskalasi meningkat itu saat Amerika Serikat di bawah Donald Trump ikut mengirim armada lautnya. Bahkan dua kapal induk,” lanjutnya.
Padahal, dari kabar yang tersiar soal diplomasi terkait program nuklir telah menemui titik terang pada Sabtu (28/2/2026). Tapi, malamnya justru terjadi serangan pertama terhadap Iran.
Akibat isu ini, berembus kabar akan terjadi Perang Dunia III jika sejumlah negara turut ikut campur. Menurut Haryo, masyarakat jangan mudah termakan isu dan terprovokasi berita yang tidak kredibel. Tapi juga tetap waspada.
Reporter: Yolanda Oktaviani
Editor: Intan Refa



