
CTY GUIDE FM, KOTA BATU – Beban pembiayaan layanan kesehatan warga Kota Batu yang harus dibayarkan oleh BPJS Kesehatan menunjukkan ketimpangan antara iuran dan klaim. Sepanjang tahun 2025, BPJS Kesehatan Cabang Kota Batu mengeluarkan biaya klaim mencapai Rp267,5 miliar. Sementara iuran yang berhasil terhimpun hanya sekitar Rp107,8 miliar.
Kepala BPJS Kesehatan Kantor Cabang Batu Erra Widayati menjelaskan selisih besar tersebut dapat tertutupi melalui mekanisme subsidi silang secara nasional. Menurutnya, penyakit katastropik menjadi salah satu faktor tingginya beban klaim, karena membutuhkan biaya pengobatan tinggi serta teknologi medis yang canggih.
“Kasus penyakit jantung menjadi yang tertinggi dengan total pembiayaan mencapai Rp45 miliar dalam satu tahun, dari sekitar 56 ribu kasus,” ungkapnya.
Selain penyakit jantung, beban pembiayaan juga datang dari penyakit berat lainnya. Seperti stroke, kanker dan gagal ginjal. Penyakit-penyakit tersebut memiliki keterkaitan erat dengan pola hidup masyarakat yang kurang sehat.
Baca juga:
Disnaker Kota Batu Upayakan Pekerja Informal Tercover BPJS Ketenagakerjaan
“Kalau ini tidak kita kendalikan, keberlanjutan program JKN bisa terancam karena biayanya akan terus meningkat,” tegasnya.
Pihaknya juga mencatat, biaya pelayanan rawat inap di rumah sakit di Kota Batu mencapai rata-rata Rp15 miliar setiap bulan. Sementara untuk layanan rawat jalan tingkat lanjutan menghabiskan sekitar Rp5,5 miliar per bulan.
Besarnya angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran jaminan kesehatan bagi masyarakat. Akan sulit rasanya bila masyarakat harus menanggung biaya pengobatan yang tinggi itu secara mandiri.
Oleh karena itu, BPJS Kesehatan terus mendorong program promotif dan preventif. Salah satunya melalui pemeriksaan pap smear untuk deteksi dini kanker serviks. Serta program Prolanis bagi penderita penyakit kronis seperti gula darah dan hipertensi di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Selain itu, Erra mendorong masyarakat untuk memanfaatkan aplikasi Mobile JKN untuk memantau layanan kesehatan. Termasuk ketersediaan kamar rumah sakit dan skrining kesehatan mandiri.
“Kita perlu mulai menjaga pola makan, rutin berolahraga dan melakukan deteksi dini. Dengan begitu, dana JKN yang besar ini bisa lebih efektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Intan Refa




