NewsOlahraga

Nekat Hijrah ke Kota Malang Demi Kejar Impian Jadi Atlet Taekwondo

Atlet taekwondo Kota Malang Jovanca Puspitar Amartha. (Foto: TI Kota Malang)
Atlet taekwondo Kota Malang Jovanca Puspitar Amartha. (Foto: TI Kota Malang)

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Usia Jovanca Puspita Amartha alias Jojo masih tergolong muda saat memutuskan merantau ke Kota Malang. Saat memasuki bangku SMA, Jojo nekat hijrah dari Lumajang ke Kota Malang untuk bersekolah di SMA Panjura demi mengejar impiannya sebagai atlet taekwondo.

Semula, ia belum begitu yakin dengan kegiatan non akademis ini. Berbagai cabang olahraga pernah Jojo coba dan pilihannya akhirnya jatuh pada taekwondo.

“Saya ikut taekwondo itu kelas 3 SD. Awalnya bukan langsung ikut taekwondo. Dulu waktu kecil masih ikut renang. Tapi karena renang di kota saya prestasinya kurang meningkat, akhirnya orang tuanya menyarankan untuk pindah cabor. Waktu itu dikasih dua pilihan antara panahan sama taekwondo,” terang Jojo.

Saat memperhatikan olahraga panahan, ia mengaku tidak begitu tertarik. Berbeda dengan taekwondo, ia langsung terpincut. Apalagi Jojo sering nonton boxing saat masih kecil.

Tampaknya pilihannya ini tepat. Jojo udah beberapa kali mengikuti kompetisi. Salah satunya adalah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) pada tahun 2022 di Sidoarjo. Waktu itu Jojo berhasil mengamankan satu medali emas untuk kategori junior.

Lalu pada tahun 2023, Jojo mencoba naik kelas ke event Porprov VIII Jatim. Namun, sepertinya Jojo harus latihan lebih keras lagi karena di kompetisi ini, ia belum berhasil membawa pulang satu pun medali.

Belajar dari kegagalan itu, Jojo berhasil menebusnya dengan membawa pulang medali perunggu pada Porprov IX Jatim 2025 pada kategori senior under 46.

“Jadi waktu Porprov itu setiap hari latihan dan itu ada jadwal pagi sore sampai malam. Kadang diselingin sama renang untuk pendinginan. Dua tiga bulan itu Latihan yang benar-benar intens. Kayak kita harus tahu jarak tendang ke musuh, jump step-nya, cara ambil poin, trik nyuri poin itu juga harus kita pelajari sama arah tendang gitu,” lanjutnya.

Teknik-teknik itu harus ia pelajari, karena Jojo pernah bertemu musuh yang secara postur lebih tinggi darinya. Tentu itu agak menyulitkannya untuk menjatuhkan lawan, maka ia harus melatih step samping agar tetap dapat poin.

Rutinitas latihannya itu memang sering menyita waktunya sekolah, terutama saat hendak menghadapi pertandingan besar.

“Agak susah sih sebenarnya karena ada latihan paginya dan kadang ngambil waktu jam pelajaran sekolah. Untungnya ada dispensasi buat izin dan sekolah mendukung juga. Kalau tugas sekolah sih masih bisa dikerjain kalo ada luang waktu,” kata Jojo.

Untungnya meskipun jauh dari orang tua, dukungan dari mereka menjadi kekuatan baginya. Langkahnya masih panjang. Semangat Jojo ini menjadi bahan bakar agar ia bisa menyusul seniornya yang sudah berada di gelanggang yang lebih tinggi. (adv)

Editor: Intan Refa

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button