
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Sejak duduk kelas 1 SD, Muhammad Fasha Faiz Fadhilah telah mengenal bela diri taekwondo atas arahan dari orang tuanya. Namanya juga anak kecil, pasti agak kesusahan mengikuti sesi latihan dasar.
“Yang sulit itu cara belajar tekniknya. Taekwondo itu perlu kelenturan badan, jadi itu harus banyak dipelajari,” ungkapnya.
Kata Fasha, sebenarnya ia sempat terbersit keinginan untuk berhenti karena lebih menyukai olahraga futsal dari pada taekwondo.
“Waktu itu aku pernah pengen berhenti karena aku pengennya ekstrakurikuler lain seperti futsal. Tetapi orang tuaku ngga yang terlalu support aku di sana, tapi supportnya di sini. Akhirnya aku komitmen di sini, coba-coba terus dan berkembang dan mulai mengikuti kejuaraan,” lanjutnya.
Sejauh ini, menurutnya teknik yang paling sulit adalah tendangan manuver alias tendangan berputar di udara. Karena tingkat kesulitannya ini, tendangan manuver ini menjadi tendangan mematikan sekaligus unggulan dalam sebuah pertandingan.
Untuk dapat menguasai itu, tentu ada kebiasaan latihan yang harus konsisten. Pertama latihan fisik untuk massa otot dan kekuatan nafas. Serta latihan teknik untuk mempelajari berbagai teknik kunci agar mampu mengalahkan lawan di arena pertandingan. Kerja kerasnya selama ini pun akhirnya berbuah manis.
“Waktu aku junior itu aku pernah juara di skala nasional dan internasional. Jadi saat itu aku mulai berkembang dari junior ke senior. Pertama itu di Taekwondo International Hanmadang yang digelar oleh Korea Selatan di POPKI Jakarta, di situ aku berhasil meraih medali emas,” ceritanya.
Selanjutnya, Fasha juga berhasil menjuarai Magelang National Championship. Ia berhasil meraih juara 1 di pertandingan yang paling bergengsi ini. Sejak saat itu, Fasha merasa mampu bersaing di kancah nasional dan cukup percaya diri untuk mengikuti ajang-ajang yang lain.
“Yang terdekat tahun 2023, aku berhasil juara di POMNAS di Kalsel meraih medali perunggu untuk Provinsi Jatim. Aku juga ikut kualifikasi PON Sumut Aceh di POPKI Cibubur. Aku juga berhasil menjuarai Road to Porprov di Jember, membawa pulang medali emas. Lalu POMProv di Surabaya meraih emas dan terbaru juara 1 di Porprov IX Jatim 2025,” lanjut Fasha.
Tentu pencapaiannya ini tidak lepas dari dukungan kuat kedua orang tuanya yang membuatnya bebas mengikuti pertandingan manapun. Hal itu secara tidak langsung mampu melatih mental dan skill yang terus meningkat.
Di sisi lain, Fasha mengakui dengan belajar taekwondo, secara perlahan membentuk karakter dirinya yang berguna untuk kehidupan pribadi dan sosial. Mulai dari rasa tanggungjawab, mental yang kuat, disiplin latihan, menjaga pola makan dan jam tidur untuk menjaga performa.
Fasha bertekad tidak akan menghentikan langkahnya di sini. Ada mimpi besar yang masih ia lambungkan di masa depan yaitu menembus Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Sea Games. Dan yang lebih menyentuh, Fasha ingin sekali bisa memberangkatkan kedua orang tuanya ke Tanah Suci dari hasil jerih payahnya menjadi atlet taekwondo. (adv)
Editor: Intan Refa




