Mensos Klaim Ijazah Sekolah Rakyat Setara dengan Sekolah Umum

CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf mengklaim bahwa ijazah dari Sekolah Rakyat (SR) akan memiliki nilai yang setara dengan ijazah sekolah umum. Kata Gus Ipul, Sekolah Rakyat ini sebagai salah satu strategi utama dalam mengentaskan kemiskinan esktrem hingga 0 persen pada 2026 dan di Bawah 5 persen hingga 2029. Sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 dan 8 Tahun 2025.
“Ini langkah strategis Presiden untuk menyinergikan seluruh kementerian, lembaga dan pemerintah daerah dalam memerangi kemiskinan secara terpadu,” ujarnya dalam kunjungan di beberapa perguruan tinggi Kota Malang, Jumat (3/5/2025).
Mantan Wagub Jatim itu juga memastikan bahwa lulusan SR dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Berkat sistem multi entry dan multi exit yang dirancang Kemendikdasmen.
“Siswa bisa pindah jalur, misalnya dari SD ke SMP umum, atau tetap di SR hingga SMA. Fleksibilitas ini menyesuaikan dengan kemampuan masing-masing,” jelasnya.
Sedangkan untuk mencegah potensi penyimpangan seperti bullying atau kekerasan seksual di sekolah berasrama, Gus Ipul menekankan pentingnya seleksi ketat bagi tenaga pendidik dan pengawas. Dia juga menambahkan ada lebih dari 500 orang direkrut untuk posisi guru dan kepala sekolah.
“Kepala sekolah, guru, dan pengasuh harus lolos tes. Kami juga berkoordinasi dengan gubernur, bupati dan dinas pendidikan untuk pengawasan bersama,” tegasnya.
Selain itu, perguruan tinggi juga akan terlibat dalam pendampingan. Termasuk program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk memastikan kualitas pengajaran. Sementara siswa tidak hanya mendapatkan kurikulum formal melainkan juga Pendidikan karakter saat pelajaran sore.
Tahun ini ada 53 SR yang akan rencananya akan beroperasi Juli mendatang. Termasuk Kota Malang yang akan menggunakan eks Politeknik Kota Malang (Poltekom) sebagai gedung belajar dan rusunawa depan Poltekom akan jadi asramanya.
Saifullah menambahkan hingga 2026, jumlah SR akan terus bertambah hingga 100-200 lokasi.
Reporter : Heri Prasetyo
Editor : Intan Refa